Kegiatan bertajuk “Jambore Literasi Jawa
Barat 2017” yang diselenggarakan baru – baru ini mendapatkan respon cukup
hangat dari berbagai kalangan. Acara yang mengusung tema “Tangguh Taklukkan
Tantangan, Menjadi Cahaya Peradaban” tersebut sengaja digelar sebagai bentuk
penghargaan kepada guru serta siswa yang berhasil mengikuti tantangan dalam
program West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC).
Tak kurang dari 2500 peserta turut hadir dalam hajatan yang digelar oleh
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik
Indonesia itu. Harapan akan lahirnya generasi yang menjadikan buku sebagai
sahabat setia pun diutarakan oleh berbagai elemen masyarakat usai
diselenggarakannya hajatan besar tersebut.
Upaya untuk meningkatkan budaya
literasi di kalangan guru dan pelajar sebagaimana yang dilakukan oleh Pemprov
Jabar tersebut memang bukan tanpa alasan. Hasil studi "Most Littered
Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State
Univesity pada tahun 2016 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat
ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal minat membaca. Indonesia berada
persis di bawah Thailand dan hanya sedikit lebih unggul dari Bostwana. Hal ini
tentunya menjadi sebuah ironi mengingat ketersediaan infrastruktur untuk
mendukung kebiasaan membaca di Indonesia sudah lebih baik dari negara – negara
Eropa sekalipun. Untuk komponen infrastruktur pendukung, Indonesia menempati
urutan ke - 34 di atas Jerman, Portugal, Korea Selatan dan Selandia Baru.
Kenyataan di atas secara tidak
langsung telah mematahkan anggapan bahwa ketersediaan infrastruktur menjadi
kendala utama dalam upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Perpustakaan yang sejatinya berperan sebagai jantung sekolah cenderung tidak
dikelola dengan baik oleh mereka yang diberikan amanah. Kondisi ruangan yang
tidak nyaman serta lokasi yang cukup jauh dari jangkauan siswa, membuat mereka
enggan untuk datang. Di samping itu kurangnya SDM khusus yang dapat benar-benar
fokus dalam mengelola perpustakaan mengakibatkan gudang ilmu tersebut
semakin tak terurus. Alhasil, perpustakaan sekolah pun tak jarang menjadi
sarang cakcak, cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat
jarang dikunjungi oleh siswa.
Kondisi ini diperparah oleh
kurangnya keteladanan dari para guru untuk menjadikan buku sebagai teman setia
mereka. Di waktu senggang kita sering kali menyaksikan lebih banyak guru yang
asyik bercengkerama dengan gadget mereka daripada memanfaatkan waktunya untuk
membaca buku. Sebagian guru bahkan terlihat anteng memainkan
telepon genggamnya saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.
Metode belajar CBSA alias Cul Budak Sina Anteng pun
kembali menjadi tren di kalangan “guru millenial” semacam ini.
Agar upaya untuk meningkatkan
literasi di lingkungan sekolah tidak sekedar basa basi, pihak pengelola sekolah
hendaknya mampu mengeluarkan kebijakan yang benar – benar berorientasi pada
peningkatan minat baca di kalangan siswa maupun guru – gurunya. Menghidupkan
(kembali) perpustakaan sekolah serta menyediakan SDM yang mumpuni untuk
mengelola perpustakaan menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu raport literasi
pun sebaiknya diberlakukan bagi guru serta siswa untuk mengukur sejauh mana
keberhasilan program peningkatan budaya literasi yang tengah dijalankan. Dengan
demikian, budaya membaca yang merupakan ciri khas pelajar pun dapat kembali
melekat. Semoga.
Home

