Tingginya derajat manusia di hadapan Allah SWT
sejatinya tidak hanya ditentukan oleh sejauh mana ketaatan mereka dalam
menjalankan ibadah serta menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, ikhtiar seorang
muslim untuk menyeru umat manusia agar senantiasa berada di jalan Allah menjadi nilai tersendiri yang
akan dicatat sebagai amal shaleh untuk bekal di akhirat nanti. Degradasi moral
yang saat ini tengah menjangkiti masyarakat “modern” dijadikannya tantangan
sekaligus jembatan untuk meraih ridho Ilahi.
Adapun kesempatan maupun kewajiban untuk melakukan
aktivitas dakwah tersebut sejatinya tidak hanya dikhususkan bagi kalangan da’i
atau ulama semata, namun juga masyarakat pada umumnya. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi : “Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah
orang-orang yang beruntung”. Dari ayat tersebut terlihat jelas bahwa siapa
pun dapat mengambil bagian dalam upaya menegakkan kalimatullah, apapun
profesi mereka.
Seorang guru matematika yang mengajar di Sekolah Dasar
(SD) misalnya, mereka tidak hanya dituntut untuk mampu melakukan transfer ilmu
kepada anak didiknya, namun juga membentuk karakter mereka. Saat menjelaskan
materi tentang perkalian 5, guru dapat mengaitkannya dengan kewajiban shalat
yang lima waktu maupun rukun islam yang jumlahnya lima. Begitu pula dengan para
pedagang di pasar. Dengan menggunakan timbangan yang akurat saat mereka
melakukan transaksi jual beli, niscaya mereka tengah berdakwah dengan cara
memberikan keteladanan kepada para pedagang lainnya untuk senantiasa berbuat
jujur dan tidak menipu pembeli. Hal ini dikarenakan kegiatan dakwah tidak hanya
terpaku pada aktivitas lisan semata, namun juga dapat dilakukan melalui
perbuatan.
Selanjutnya, kepada siapakah seruan (dakwah) itu harus
dilakukan ? Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara ayat
214 – 215 yang berbunyi : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,
yaitu orang-orang yang beriman”. Ayat
tersebut menjelaskan bahwa upaya untuk menegakkan amal ma’ruf nahi munkar hendaknya
dimulai dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Mulai dari keluarga,
kerabat, tetangga, sampai dengan rekan seprofesi kita selayaknya dijadikan
sasaran utama dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini
penting dilakukan agar pondasi dakwah yang tengah dibangun benar-benar mampu
bertahan saat harus menghadapi berbagai tantangan yang muncul di lapangan.
Dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta ibadah
kita kepada Allah SWT, penulis mengajak kepada setiap muslim untuk menjadikan
dakwah sebagai bagian dari hidupnya. Senantiasa menyeru kepada kebaikan dan
mencegah kemunkaran sesuai dengan kemampuannya merupakan pribadi yang harus
dimiliki oleh setiap muslim. Dengan begitu, kita pun berharap Allah akan
memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang
beruntung sebagaimana tercantum dalam firman-Nya. (Dimuat di Koran Republika, Edisi
29 Oktober 2017)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar