Kehadiran kelas akselerasi akan berdampak kurang baik
bagi perkembangan mental anak. Kelas yang selama ini banyak “digandrungi”
oleh para orang tua tersebut hanya akan membuat anak tumbuh secara instant.
Selain itu program akselerasi ini juga tidak sesuai dengan semangat yang
dibangun dalam kurikulum 2013 dimana pembentukan karakter peserta didik menjadi
bagian penting dari proses pendidikan yang tengah dijalankan. Hal itu
diungkapkan oleh Mendikbud Muhajjir Effendy saat melepas para peneliti muda
yang akan berlaga dalam kompetisi yang akan berlangsung di California beberapa
waktu lalu. Mendikbud pun mengingatkan akan pentingnya kecerdasan sosial dan
spiritual sebagai faktor yang turut menentukan kesuksesan seseorang di masa
depan.
Dalam pandangan penulis, rencana penghapusan kelas
akselerasi oleh Kemdikbud ini merupakan kebijakan yang tepat. Kenyataan
menunjukkan, kelas akselerasi hanya mampu mencetak anak-anak yang cerdas secara
akademik namun tidak memiliki kecerdasan sosial maupun emosional yang memadai.
Masa studi SD yang ditempuh hanya dalam waktu lima tahun menyebabkan materi
pembelajaran menjadi sangat padat.
Akibatnya siswa pun seakan “dikejar setoran” dan hanya
fokus pada kegiatan akademik semata. Lebih dari itu, kelas akselerasi secara
tidak langsung membentuk karakter peserta didik menjadi elitis dan
individualistis. Mereka lebih mementingkan diri sendiri demi mendapatkan nilai
yang baik. Kelas akselerasi ibarat sebuah mesin pabrik yang berorientasi
meghasilkan sebuah produk tanpa mementingkan prosesnya. Padahal tujuan
pendidikan tidaklah demikian.
Pendidikan pada hakikatnya lebih menekankan pada
proses yang harus dijalani oleh setiap peserta didik. Dalam proses tersebut
terdapat beberapa fase atau tahapan yang harus dijalani. Melewatkan satu fase
saja akan mengakibatkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak utuh di
kemudian hari.
Adapun Sekolah Dasar merupakan pondasi awal yang
sangat penting dan menentukan kelanjutan proses pendidikan selanjutnya. Oleh
karena itu, memotong masa studi SD demi mengejar kemampuan akademik sama saja
dengan mengorbankan masa depan anak. Masa-masa bermain anak sejatinya merupakan
salah satu bagian penting dari sebuah proses pendidikan. Saat bermain dengan
teman sebayanya, anak akan belajar bagaimana cara bersosialisasi dan memahami
satu sama lainnya.
Berdasarkan gambaran diatas, sudah saatnya
sekolah-sekolah yang saat ini menerapkan kelas akselerasi untuk meninjau
kembali kebijakannya. Selain tidak relevan dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan
karakter dalam setiap mata pelajarannya, kondisi kelas akselerasi yang bersifat
homogen akan menyebabkan peserta didik shock saat mereka terjun ke
masyarakat yang bersifat heterogen.
Adapun bagi orang tua yang selama ini “mendewakan” angka-angka,
sudah saatnya mereka kembali ke jalan yang benar. Orang tua seharusnya lebih
bangga saat melihat anak mereka memiliki rasa empati yang tinggi kepada orang
lain daripada hanya sekedar mendapatkan ranking di kelasnya. Dengan begitu,
pendidikan yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya pun dapat benar-benar
terwujud. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi 23 Mei 2017)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar