Bebasnya mantan ketua KPK Antasari Azhar dari jeruji
besi seakan menambah dinamika perpolitikan di
tanah air. Pimpinan KPK jilid I tersebut dapat kembali menghirup udara segar
setelah Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan grasi yang diajukan oleh
tim kuasa hukumnya. Antasari yang divonis 15 tahun penjara karena diduga
melakukan pembunuhan berencana terhadap Direktur Utama PT. Putra Rajawali
Banjaran Nasrudin Zulkarnain, akhirnya dibebaskan setelah menjalani 8 tahun
masa tahanannya. Sebagian pihak menilai, keputusan tersebut lebih bermuatan
politis karena dilakukan di tengah menghangatnya perseteruan antara elit
pemerintahan saat ini dengan rezim pemerintahan sebelumnya yang dinakhodai oleh
Susilo Bambang Yudhoyono.
Beragam spekulasi pun muncul menyikapi kebijakan
pemberian grasi tersebut. Adanya indikasi untuk menjadikan mantan ketua KPK itu
sebagai “senjata” untuk membungkam suara-suara kritis yang kerap kali
dilontarkan oleh mantan presiden SBY serta para pendukungnya, disampaikan oleh
para pengamat yang merasa khawatir akan terjadinya kegaduhan lebih besar. Hal
ini setidaknya dapat kita amati dari tindak tanduk Antasari beberapa saat
setelah dirinya dibebaskan.
Adapun pengakuan Antasari bahwa dirinya pernah “diminta”
oleh SBY untuk tidak menahan besannya Aulia Pohan yang saat itu tengah
tersandung kasus hukum, menjadi babak baru “pertarungan segitiga” yang
melibatkan SBY, Jokowi serta Antasari sendiri. Sebagai pucuk pimpinan lembaga
penegak hukum yang kala itu paling dipercaya publik, Antasari tentunya tidak
akan melupakan begitu saja apa yang pernah dilakukan oleh rezim pemerintahan
terdahulu pada dirinya. Beberapa kalangan menduga, Antasari tengah menyiapkan
kejutan – kejutan lainnya untuk membalas jasa Presiden Jokowi yang telah
memberikan “kehidupan baru” bagi dirinya beserta keluarganya. Hal ini tentunya
dapat memberikan energi lebih bagi Jokowi – JK untuk menyingkirkan pihak –
pihak yang selama ini dinilai berseberangan dengan pemerintah.
Di lain pihak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI
yang berlangsung dua putaran menyisakan tanda tanya besar tentang sikap yang
akan diambil oleh SBY dan partai Demokrat setelah jagoan mereka kalah dalam
putaran pertama. Secara logika, sulit bagi SBY untuk memberikan dukungan kepada
pasangan petahana yang merupakan representasi dari pemerintahan saat ini yang
dinilai tengah mendzalimi dirinya. Namun, kehadiran Antasari di kancah
perpolitikan nasional memaksa SBY dan Partai Demokrat untuk lebih cermat dalam
mengambil keputusan. Penahanan para mantan pejabat di era pemerintahan SBY
sejatinya merupakan “pesan” dari partai penguasa kepada mereka yang berada di
luar lingkaran kekuasaan untuk belajar “menghormati” kebijakan – kebijakan yang
diambil oleh pemerintah.
Kondisi semacam ini pada akhirnya menempatkan SBY
serta para pendukungnya pada posisi yang cukup sulit. Kehadiran Antasari yang
tak pernah diduga sebelumnya seakan menjadi ujian tersendiri bagi ketua umum
Partai Demokrat itu dalam menjalani sisa hidupnya. Dalam situasi seperti ini,
hanya ada dua pilihan yang dapat diambil oleh SBY. Kedua pilihan tersebut
masing-masing memiliki konsekuensi yang tidak sederhana bagi masa depan SBY dan
keluarganya serta partai yang dipimpinnya.
Pertama, mengalihkan dukungan kepada pasangan petahana
(Ahok –Djarot). SBY benar-benar memahami tentang besarnya kewenangan Antasari
saat memimpin lembaga anti rasuah di era kepemimpinannya. Dengan kewenangan
yang dimilikinya saat itu, Antasari memiliki akses yang cukup luas untuk
menyelidiki berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh para pejabat negara.
Artinya, pengakuan Antasari terkait pembatalan penahanan Aulia Pohan hanyalah
sebagian kecil dari segudang “amunisi” yang dia miliki dan dapat digunakan
sewaktu-waktu untuk kepentingan tertentu. Adapun grasi yang baru saja ia terima
merupakan salah satu bentuk “simbiosis mutualisme” yang sengaja dibangun oleh
pemerintahan saat ini dalam rangka mengamankan berbagai kebijakannya.
Antasari Azhar bukanlah satu-satunya alasan bagi SBY
untuk “berdamai” dengan penguasa saat ini. Kehadiran Jusuf Kalla dan Sri
Mulyani dalam kabinet Indonesia Bersatu ibarat pedang yang telah berpindah
tangan. Mereka yang dahulu pernah tinggal satu perahu dengan SBY dalam kurun
waktu yang cukup lama dan memiliki posisi sangat strategis, tentunya sangat
memahami rahasia “rumah tangga” SBY dan Partai Demokrat. Lagi-lagi, hal ini
dapat dijadikan senjata oleh pemerintahan Jokowi – JK untuk mengontrol tindak –
tanduk lawan politiknya.
Kedua, mendukung pasangan Anies - Sandi. Sebagai seorang
negarawan sekaligus tokoh bangsa yang pernah memimpin negeri ini selama dua
periode, SBY tentu tidak ingin dirinya dipecundangi berkali – kali. Dalam
konteks ini, hancur lebur di medan perang dinilai sebagai pilihan yang lebih
baik dibandingkan diam namun tetap teraniaya. Kekalahan calon petahana dalam
Pilkada DKI diharapkan mampu mengurangi pengaruh maupun kontrol pemerintah
terhadap pihak-pihak yang selama ini berseberangan.
Dari kedua pilihan tersebut, tak seorang pun dapat
memastikan pilihan mana yang akan diambil oleh SBY dan partainya. Hal ini
dikarenakan dunia politik adalah dunia yang kerap kali diselimuti oleh
ketidakpastian. Kompromi – kompromi politik sangat mungkin dilakukan menjelang
Pilkada putaran kedua. Dalam hal ini masa depan Partai Demokrat serta
keselamatan diri SBY dan kerabatnya menjadi pertimbangan utama saat mengambil
keputusan strategis.
Adapun kita sebagai “penonton” hanya bisa berdo’a dan
berharap, pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali itu
benar-benar mampu melahirkan sosok pemimpin yang berintegritas dan memiliki
kapabilitas. Dengan demikian, harapan akan hadirnya wajah ibukota yang (lebih)
beradab pun dapat benar – benar terwujud. Semoga (Dimuat di Harian Umum Galamedia
Edisi 15 Maret 2017)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar