“Perawan memang menawan, tapi janda lebih
menggoda”. Ungkapan tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak tulisan bergambar (meme) yang biasa kita
temukan di media sosial dan cukup disukai oleh para netizen. Tulisan semacam ini juga dapat dengan mudah kita temukan
di bagian belakang truk, lengkap dengan gambar seorang wanita berpenampilan
menarik. Terlepas dari perbedaan pandangan apakah ungkapan tersebut bernada
merendahkan ataupun sebaliknya, satu hal yang pasti bahwa pandangan masyarakat
terhadap sosok seorang janda kini tengah mengalami pergeseran. Janda (apalagi
yang masih berusia muda) tidak lagi dijadikan “alternatif” oleh mereka yang
tengah mencari pendamping hidup. Sebaliknya, dalam banyak kasus wanita yang telah “berpengalaman” tersebut
lebih dibutuhkan oleh pria yang memiliki kebutuhan yang tidak akan mampu
dipenuhi oleh mereka yang “belum berpengalaman”.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa
kebahagiaan sebuah keluarga atau rumah tangga tidak dapat diukur oleh status
maupun latar belakang pasangan hidup kita. Perawan atau janda tentunya memiliki
kelebihan masing-masing, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi
seorang duda yang telah memiliki (beberapa) anak, memilih janda sebagai
pendamping hidupnya tentu lebih baik dibandingkan dengan perawan yang sama
sekali belum berpengalaman dalam mengurus rumah tangga. Hal ini berlaku pula
bagi para jejaka yang merindukan sosok perempuan yang lebih dewasa untuk
dijadikan teman hidup yang benar – benar siap untuk menerima segala keluh
kesahnya.
Tak jauh berbeda dengan memilih
pasangan hidup, tipe calon pemimpin yang akan kita pilih pun hendaknya
disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan saat ini. Adanya anggapan bahwa orang
yang belum memiliki pengalaman di ibukota tak layak memimpin Jakarta, tidak sepenuhnya
dapat diterima. Hal ini dikarenakan sosok yang dikenal telah berpengalaman pun
belum tentu dibutuhkan oleh warga
Jakarta. Rekam jejak (track record) maupun
kinerja saat yang bersangkutan memimpin ibukota selama ini tentunya menjadi
catatan tersendiri bagi warga Jakarta untuk memutuskan apakah akan memilihnya
kembali atau tidak.
Adapun banjir musiman yang kian meluas serta
makin semrawutnya kondisi lalu lintas merupakan persoalan utama yang dihadapi
oleh warga ibukota saat ini. Kedua persoalan tersebut seakan menjadi “identitas”
kota Jakarta yang sulit dihilangkan dari ingatan masyarakat. Kondisi yang
dirasakan oleh warga ibukota itu tak kunjung membaik sekalipun kepala daerahnya
telah berkali-kali berganti. Ironisnya, kedua persoalan tersebut tak jarang dipolitisasi
oleh mereka yang menginginkan kursi nomor satu di kota metropolitan tersebut.
Selain persoalan kinerja, integritas
calon pemimpin (petahana) pun menjadi
salah satu faktor penting yang akan dijadikan bahan pertimbangan oleh para
pemilih. Kebiasaan petahana yang sering kali berkata-kata kasar serta
menyinggung perasaan umat beragama lain menunjukkan bahwa yang bersangkutan
memang bermasalah secara etika. Selain itu dugaan penyimpangan dalam proses
pembelian Rumah Sakit Sumber Waras yang dilakukan oleh Pemprov DKI pun tidak
mungkin diabaikan begitu saja oleh warga Jakarta yang dikenal (lebih) rasional
dalam memilih pemimpinnya.
Jika diibaratkan sebagai kehidupan
rumah tangga, istilah awet rajet
mungkin sangat tepat untuk menggambarkan
hubungan antara warga ibukota dengan pemimpinnya saat ini. Menggusur, mencela
dan menghardik seakan menjadi “bahasa” yang sering digunakan oleh petahana saat
yang bersangkutan menjalankan roda pemerintahan ibukota. Permintaan maaf pun
kerap kali disampaikannya kepada masayarakat atas perkataan maupun perbuatan
yang telah dilakukannya. Namun, kesalahan yang sama sering kali terulang
setelah beberapa waktu kemudian. Sebagian pihak yang merasa dirugikan bahkan
memilih untuk menempuh jalur hukum agar
kepala orang nomor satu di ibukota tersebut benar-benar jera.
Dari pemaparan di atas, dapat
disimpulkan bahwa adanya anggapan bahwa Jakarta membutuhkan pemimpin yang
berpengalaman tidaklah tepat. Pandangan tersebut hanyalah “modus” yang
digunakan oleh tim sukses untuk menggiring opini masyarakat agar memilih
kembali petahana untuk lima tahun ke depan. Sebaliknya, ibukota yang tengah
diselimuti berbagai persoalan multi dimensi tersebut lebih membutuhkan
wajah-wajah baru yang mengedepankan pendekatan yang lebih humanis dalam memecahkan
masalah. Dengan demikian, harapan akan hadirnya wajah ibukota yang (lebih)
beradab pun dapat benar – benar menjadi kenyataan. (Dimuat di Harian Umum
Galamedia Edisi 07 Februari 2017)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar