Dinamika yang terjadi dalam dunia
pendidikan sudah selayaknya dijadikan sarana oleh setiap pendidik untuk
mengasah kompetensi sesuai dengan bidang profesi yang digelutinya. Beragamnya
tantangan yang harus dihadapi hendaknya disambut dengan penuh rasa optimisme
serta keinginan kuat untuk mempersembahkan performa terbaiknya. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta perbedaan karakteristik antar generasi merupakan tantangan
terbesar yang harus dihadapi oleh pendidik yang hidup di era milenium ini.
Adapun
rendahnya kompetensi (sebagian) guru dirasakan masih menjadi ganjalan bagi
bangsa ini untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lainnya.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kemendikbud, dari 1,6 juta guru yang mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) pada tahun 2012 lalu, lebih dari 80 persennya
memperoleh nilai di bawah 50 dari rentang nilai 0 – 100. Tak heran apabila
banyak pihak yang mulai mempertanyakan efektivitas program sertifikasi guru
yang digulirkan sejak beberapa tahun silam itu.
Rendahnya
kompetensi (sebagian) guru tersebut tentunya berpengaruh terhadap kualitas
lulusan yang dihasilkan. Berdasarkan
laporan dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF), kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) Indonesia pada tahun ini menempati urutan ke – 69 dari 124
negara yang diteliti. Hal ini tentu saja menjadi sebuah ironi di tengah
melimpahnya jumlah tenaga guru serta semakin meningkatnya anggaran pendidikan
dari waktu ke waktu. Pada tahun lalu saja anggaran untuk pendidikan naik
sebesar 7,5 persen dari Rp 345,3 triliun menjadi Rp 371,2 triliun atau setara
dengan 20,67 persen APBN.
Buramnya
potret dunia pendidikan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya minat
para pendidik untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya. Padatnya rutinitas
harian yang cukup menyita waktu serta besarnya biaya yang diperlukan menjadi
alasan utama bagi mereka untuk tetap berada di “zona nyaman”. Kondisi ini
diperparah dengan minimnya upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan
kompetensi para guru yang mengabdi di wilayahnya. Sebagian besar program pemda
masih berfokus pada pembangunan fisik
namun di saat yang sama justru mengabaikan peningkatan kualitas sumber
daya manusianya.
Agar
setiap pendidik mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, diperlukan
tekad yang kuat untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya dari waktu ke
waktu. Mempelajari hal-hal baru yang berkaitan erat dengan dunia pendidikan,
mutlak dilakukan oleh pendidik yang memiliki pandangan jauh ke depan. Ruang kelas tidak lagi hanya dipandang
sebagai tempat mereka mengajar melainkan juga sarana untuk belajar sebagaimana
yang dilakukan oleh peserta didiknya.
Adapun
pemerintah pusat diharapkan mampu bersinergi dengan pemerintah daerah dalam
memfasilitasi para guru untuk dapat meningkatkan kompetensinya. Berbagai
kebijakan yang dikeluarkan hendaknya
benar-benar didasarkan pada kebutuhan guru di lapangan. Dengan demikian,
guru pun akan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Selamat
Hari Guru Nasional 25 November !.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar