Kurangnya tenaga Insinyur merupakan
salah satu kendala yang dihadapi bangsa ini dalam upaya mempercepat pembangunan
infrastruktur di tanah air. Banyaknya perguruan tinggi yang dimiliki di negeri
ini nyatanya belum mampu memenuhi kebutuhan akan tenaga ahli yang benar-benar
siap untuk memberikan kontribusinya dalam menyukseskan jalannya pembangunan.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dalam
orasi ilmiahnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada bulan Februari
lalu. Menurutnya, setiap perguruan tinggi dituntut untuk dapat mencetak
insinyur-insinyur berkualitas dan mampu bersaing dengan insinyur-insinyur dari
luar negeri. Dengan begitu,
diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pun akan memberikan
berkah tersendiri bagi bangsa ini, bukan sebaliknya.
Di tempat berbeda, nasib tragis justru
dialami oleh salah satu insinyur terbaik di negeri ini. Adalah Dasep Ahmadi,
seorang teknopreneur muda peraih BJ
Habibie Techology Award dan dikenal sebagai pembuat mobil listrik listrik
nasional untuk program green energy di
KTT APEC pada tahun 2013 lalu, terpaksa harus menghabiskan sebagian waktunya di
balik jeruki besi. Pengadilan baru saja memvonis Dasep 7 tahun penjara akibat
mobil listrik yang pernah dibuatnya tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipesan.
Mobil listrik ciptaannya tersebut ternyata mengalami overheat saat melaju dengan kecepatan 70 – 80 Km / jam. Dasep pun
didakwa telah merugikan negara karena biaya yang digunakan untuk proyek
tersebut berasal dari dana CSR bebrapa
BUMN.
Beragam komentar dari kalangan
peneliti serta masyarakat umum pun bermunculan menanggapi vonis yang (dianggap)
“tidak masuk akal” tersebut. Apa yang dilakukan Dasep bukanlah kegiatan
komersial dalam rangka mencari keuntungan, melainkan sebuah riset yang
bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk agar bangsa ini lebih mandiri dalam
memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu berbagai kekurangan yang ada hendaknya
dipandang sebagai suatu hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses
penelitian. Bukankah Thomas Alva Edison juga mengalami ribuan kali kegagalan
hanya untuk menemukan sebuah bola lampu ?
Musibah yang menimpa Dasep Ahmadi
tersebut menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh Menko PMK Puan Maharani
dalam orasi ilmiahnya tidaklah tepat. Bangsa yang besar ini sama sekali tidak
kekurangan SDM berkualitas seperti yang dituduhkan. Sebaliknya, ketidakmampuan
pemerintah dalam menghargai karya anak bangsa lah yang menjadi penyebab
hengkangnya putra-putra terbaik bangsa ini ke luar negeri.
Sebut saja Ricky Elson, remaja
berusia 36 tahun yang dikenal sebagai pelopor mobil listrik listrik nasional
dan pemegang belasan hak paten di negara Jepang yang terpaksa harus
menyelesaikan hasil karyanya di negeri orang akibat kurangnya dukungan
pemerintah Indonesia terhadap penelitian yang tengah dilakukannya. Atau Warsito
Taruno, penemu alat terapi pembasmi sel kanker berbasis listrik statis (ECVT) yang
terpaksa “menjual” temuannya tersebut ke
negara tetangga akibat kebijakan Kementerian Kesehatan yang menutup paksa
kliniknya. Semua itu tentunya menjadi alasan logis bagi kebanyakan ilmuwan
ataupun peneliti untuk memilih berkiprah di negeri orang daripada di rumah
sendiri.
Ketiga kasus di atas hendaknya
dijadikan pelajaran oleh pemerintah untuk dapat (lebih) menghargai hasil karya
anak bangsanya sendiri. Menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada tentunya
lebih bijak daripada mematikan potensi mereka. Dengan demikian, kemandirian
bangsa seperti yang dicita-citakan pun dapat benar-benar terwujud.
Home
Betul pak, kalau di desa aja nggak ada sumber penghidupan akan pergi ke kota, apalagi ini, kalau negara tidak mau menyumbang dana,nggak mau mendorong dan mengakui kemampuannya, ya dikembangkan aja di negeri tetangga.
BalasHapus