Munculnya fenomena gaya hidup
Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) akhir-akhir ini sudah selayaknya
menjadi perhatian keluarga maupun dunia pendidikan. Terjadinya perilaku
menyimpang di kalangan remaja tersebut dikhawatirkan dapat mengancam masa depan
generasi muda apabila tidak segera disikapi secara serius. Berbagai penyakit
menular dan mematikan seakan mengintai mereka yang senantiasa melakukan
perbuatan yang berlawanan dengan kodratnya sebagai manusia tersebut.
Adapun hilangnya generasi penerus (lost
generation) merupakan ancaman terbesar yang akan dihadapi oleh negara yang
abai terhadap maraknya fenomena perilaku menyimpang di kalangan warganya itu.
Timbulnya
kecenderungan terhadap sesama jenis sebenarnya bukan hal baru di dunia
kesehatan. Berbagai faktor (diduga) menjadi penyebab seseorang mengambil
pilihan tersebut (menjadi gay atau lesbian) sebagai jalan hidupnya. Mulai dari
faktor genetika, kondisi lingkungan, sampai dengan kejadian yang pernah menimbulkan
trauma bagi dirinya berpotensi menjadi pemicu terjadinya perilaku menyimpang
tersebut. Bahkan, pola asuh yang dijalankan oleh orangtua pun turut berpengaruh
terhadap perkembangan anak pada masa selanjutnya.
Sayangnya, kondisi semacam ini kurang begitu disadari
oleh masyarakat kita. Kebanyakan orangtua menganggap bahwa LGBT merupakan
budaya barat yang datang begitu saja dan kemudian diadopsi oleh remaja kita.
Padahal, gejala yang menunjukkan tanda bahwa anak memiliki kecenderungan
terhadap sesama jenis tersebut dapat didteksi dan dicegah sejak dini apabila
orangtua maupun guru benar-benar
memahami karakter mereka dan mengikuti perkembangannya sejak awal.
Di
sisi lain adanya anggapan sebagian kalangan bahwa homoseksualitas merupakan
sesuatu yang natural dan bukan merupakan hal yang ganjil patut kita sayangkan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memang telah mengeluarkan homoseksualitas dari
kategori penyakit. Namun, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
tersebut mencatat bahwa kaum gay dan transgender memiliki resiko 20 kali lebih
besar untuk tertular penyakit HIV-AIDS dibandingkan dengan mereka yang menjalin
hubungan secara normal (dengan lawan jenis).
Adapun
dilihat dari kacamata agama, perbuatan menyukai sesama jenis tersebut jelas
dilarang dan diperintahkan untuk dijauhi. Selain merupakan dosa yang sangat
besar, perbuatan tersebut juga bertentangan dengan kodrat manusia yang
senantiasa tumbuh dan berkembang dalam rangka mempertahankan eksistensinya.
Mengikuti hawa nafsu yang tidak ada habisnya hanya akan membuat manusia semakin
jauh dari petunjuk yang diberikan oleh Tuhan nya.
Untuk
melindungi anak – anak kita dari berbagai perilaku yang menyimpang,
orangtua sebaiknya dapat berperan aktif
dalam menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Dalam hal ini orangtua
diharapkan mampu memposisikan diri mereka sebagai pembimbing sekaligus mitra
yang dapat diajak untuk berdiskusi tentang permasalahan yang dialami oleh
anaknya. Adapun guru hendaknya mampu memberikan wawasan kepada siswanya
tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi mereka. Mengajak siswa untuk
mengenal contoh-contoh perilaku menyimpang yang tidak boleh dilakukan dapat
menghindarkan mereka dari perbuatan yang membahayakan tersebut. Dengan
demikian, diharapkan tidak ada lagi tunas-tunas bangsa yang harus layu sebelum
berkembang akibat melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama tersebut. (Dimuat di Harian Umum Republika, Edisi 21 Februari 2016)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar