Sebagian besar sekolah yang ada di
Indonesia minim akan prestasi serta berlaku tidak jujur dalam memberikan
penilaian kepada siswanya. Adapun pemberlakuan ranking serta adanya ancaman ketidaklulusan menjadi alasan bagi
sekolah untuk mengambil “jalan pintas” tersebut. Akibatnya, banyak sekolah yang
hanya mampu menghasilkan anak-anak cerdas namun tidak berakhlak mulia. Itulah yang diungkapkan oleh pengamat
pendidikan Arif Rahman saat meresmikan Gerakan Kami Sekolah Jujur di Balai Kota
Bogor beberapa waktu lalu. Menurutnya,
sistem pendidikan yang berlaku saat ini telah menyimpang jauh dari tujuan
pendidikan yang sesungguhnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Apa yang disampaikan oleh pengamat
pendidikan tersebut memang sebuah realitas yang tak terbantahkan. Lembaga-lembaga
pendidikan yang ada saat ini cenderung menjadikan nilai akademik sebagai
(satu-satunya) tujuan yang harus dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran yang
mereka laksanakan. Mempersiapkan siswa untuk dapat masuk ke sekolah lanjutan
maupun perguruan tinggi favorit seakan menjadi tujuan utama dari proses
pendidikan yang berlangsung selama bertahun-tahun tersebut. Demi meraih predikat
sebagai sekolah unggul atau sekolah favorit, upaya pembentukan karakter peserta
didik yang sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan itu
pun terpaksa ditinggalkan. Di sisi
lain adanya “kompetisi” antar (kepala) daerah dalam memoles wajah dunia
pendidikan di daerahnya mendatangkan konsekuensi yang tidak sederhana bagi
sekolah-sekolah yang ada di daerah tersebut. Sekolah seakan dipaksa untuk dapat
memberikan kesan terbaiknya bagi daerah sekalipun
harus menempuh cara-cara yang “tidak wajar”. Adu gengsi antar (kepala) daerah
nyatanya telah memporakporandakan tatanan
dunia pendidikan sekaligus mengorbankan kepentingan peserta didik yang
sejatinya merupakan calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Upaya
penanaman karakter pada peserta didik pun seakan sia-sia manakala sekolah
menjadi tempat dimana ketidakjujuran justru diajarkan untuk pertama kalinya.
Massifnya kecurangan pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) merupakan contoh
nyata dari fenomena yang dimaksud.
Kondisi yang digambarkan oleh penulis
di atas antara lain disebabkan oleh belum diakuinya kejujuran sebagai sebuah
prestasi yang layak untuk diapresiasi. Angka-angka yang tertera di dalam kertas
raport rupanya masih dipandang sebagai sesuatu yang cukup “sakral” oleh
sebagian besar masyarakat. Padahal, nilai yang diperoleh peserta didik di
sekolah belum tentu mencerminkan kemampuan mereka yang sesungguhnya. Di samping
itu penentuan ambang batas nilai minimum yang diberlakukan secara merata
mengakibatkan siswa tidak mampu berkembang sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.
Untuk menciptakan iklim yang sehat di
dunia pendidikan, sekolah hendaknya mampu menjaga integritasnya dengan cara
mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam setiap aktivitasnya. Bersikap
selektif dan hati-hati dalam menyikapi setiap instruksi yang diberikan oleh
dinas pendidikan setempat merupakan langkah yang harus ditempuh oleh sekolah. Selain
itu pemerintah daerah pun diharapkan mampu lebih bijak dalam menyikapi kondisi pendidikan
di daerahnya. Melakukan berbagai upaya perbaikan seperti melaksanakan program
peningkatan kompetensi guru maupun melengkapi sarana dan prasarana belajar
tentunya jauh lebih bermanfaat dan bermartabat dari sekedar memaksa sekolah
untuk berbuat curang.
Adapun dengan dipublikasikannya
Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) bagi seluruh sekolah diharapkan mampu
memotivasi sekolah maupun pemerintah daerah Dengan demikian, kualitas
pendidikan di setiap daerah pun dapat benar-benar terukur dan prestasi yang
diraih pun benar-benar didasarkan pada hasil kerja keras antara pemerintah
daerah serta sekolah-sekolah yang ada di wilayahnya.
Home
HELLO MATH LOVERS (BURSA LAPAK BUKU ON LINE)
BalasHapusMusim Olimpiade Matematika telah tiba
BUKU ASAH ASIH ASUH OTAK MATEMATIKA SERI OLIMPIADE
Persiapan KMNR, OMNVR, OMITS, OSK/OSP, dan OSN 2016
Persiapan IMSO, EMIC, IWYMIC, WIZMIC, IYMC,IMO dan IMC
Yang minat Buku Pintar Ekslusif Seri Matematika Nalaria Realistik
Telah tersedia berbagai level 1- 8, MNR SD Kelas 1- 6 SD, MNR SMP dan Kumpulan soal suplemen Pra Pelatihan Olimpiade Matematika lengkap.
Silahkan order langsung hubungi Ibu Yeni Suryani/ Pak Agrend.
Please PM atau inbox chat dan bisa sms/call segera ke (Fast Response) nomer HP. 08561321290/08816814598 or PIN BB 5B5D1D3A
Penulis Buku
Ir. Ridwan Hasan Saputra, MSi.
Pelatih Olimpiade Nasional dan Internasional
Juri Kompetisi Olimpiade Matematika Nasional dan Internasional
Salam Prestasi dan Cerdas Generasi Indonesiaku
(Tim Promo Klinik KPM Bogor)
Kalau tujuan pendidikan yang mulia itu sudah terkontaminasi oleh aroma politik mana mungkin pendidikan nasional terwujud, apabila pendidikan ditangani banyak 'kepentingan' mau dibawa kemana bangsa ini? (Cap cay deh...)
BalasHapusKalau tujuan pendidikan yang mulia itu sudah terkontaminasi oleh aroma politik mana mungkin pendidikan nasional terwujud, apabila pendidikan ditangani banyak 'kepentingan' mau dibawa kemana bangsa ini? (Cap cay deh...)
BalasHapus