Tidak ada jabatan ataupun kekuasaan
yang perlu dipertahankan mati-matian. Jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan
sarana untuk menyejahterakan rakyat. Itulah salah satu nasihat yang pernah
disampaikan oleh almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan patut
menjadi bahan renungan para pejabat saat ini.
Melaksanakan mandat rakyat dengan penuh rasa tanggungjawab serta
dedikasi yang tinggi merupakan karakteristik dari pejabat yang memiliki visi
untuk mengabdikan seluruh hidupnya demi kepentingan rakyat. Adapun melepaskan
jabatan dalam rangka memberikan kesempatan kepada mereka yang (dianggap) lebih
kompeten, juga merupakan sikap yang tak kalah terpuji.
Nasihat
Gus Dur inilah yang mungkin dijadikan pelajaran sekaligus pegangan oleh Djoko
Sasono, mantan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan
(Kemenhub) yang baru saja mengundurkan diri dari jabatannya. Sebagai pejabat
yang bertanggungjawab untuk mengatur lalu lintas darat, Djoko merasa gagal
dalam menjalankan tugasnya. Kemacetan parah yang terjadi pada malam natal lalu
dan menyengsarakan rakyat banyak menjadi alasan bagi Djoko untuk segera
melepaskan jabatannya dan memberikannya kepada orang lain yang lebih kompeten.
Mundurnya
pejabat tinggi negara di era pemerintahan Jokowi – JK sebenarnya bukan hal
baru. Beberapa bulan sebelumnya, Sigit Priadi Pramudito mengundurkan diri
sebagai Direktur Jendral Pajak karena
merasa tidak mampu memenuhi target pendapatan di sektor pajak. Keputusan Sigit
pun diapresiasi oleh masyarakat karena sikap yang demikian menunjukkan bahwa
beliau berjiwa besar dan mengutamakan kepentingan negara daripada ambisi
pribadinya.
Sayangnya,
sikap ksatria kedua putra bangsa tersebut tidak dijadikan contoh oleh para
pejabat tinggi negara lainnya untuk berbuat hal yang sama. Banyaknya kepala
daerah maupun pejabat di tingkat pusat yang enggan meletakkan jabatannya
sekalipun terbukti gagal dalam mengemban amanat rakyat, menunjukkan bukti bahwa
mundur dari jabatan belum menjadi budaya di negeri yang kaya akan sumber daya
alam ini. Sebaliknya, menyalahkan bawahan ataupun pihak lainnya seakan menjadi
“tradisi” untuk menutupi kesalahan maupun kelemahan mereka. Alhasil, bangsa yang besar ini pun terjebak
dalam lingkaran kekuasaan sekelompok manusia yang selalu mengorbankan rakyatnya
demi kepentingan pribadi maupun golongannya.
Untuk
menyelamatkan bahtera yang besar ini dari kehancuran, diperlukan sikap bijak
dari para pemimpin kita dalam memandang jabatan yang tengah dipegangnya.
Menjadikan budaya mundur sebagai bagian dari pendidikan politik bagi masyarakat
bukan hanya akan membuat bangsa ini lebih bermartabat, namun juga akan mampu
menghapus pandangan masyarakat terhadap dunia politik yang kerap kali
diidentikkan dengan kerakusan dan keserakahan. Pada akhirnya, kita pun berharap
bangsa yang besar ini akan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya
yang lebih dahulu maju. (Dimuat di Harian Umum Republika Edisi 17 Januari 2016)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar