Krisis
regenerasi petani menjadi persoalan serius yang harus dihadapi oleh
bangsa ini di masa yang akan datang. Kurangnya minat pemuda di desa
untuk melanjutkan maupun mengembangkan usaha di bidang pertanian,
mengakibatkan negara yang dulu pernah mencapai swasembada pangan ini
semakin sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada negara
lainnya. Hal itu diungkapkan oleh Koordinator
Sub Program Penelitian Sosial Budaya LIPI Herry Yogaswara dalam
sebuah diskusi publik dengan tema ”Modernisasi dan Krisis
Regenerasi Petani di Pedesaan” yang digelar di Gedung LIPI beberapa
waktu lalu.
Dalam riset terbarunya, LIPI
menemukan fakta bahwa modernisasi di pedesaan telah mendorong
terjadinya perubahan sosial di masyarakat. Pemuda desa yang
diharapkan mampu menjadi generasi penerus justru tidak memiliki minat
maupun mewarisi keterampilan bertani dari orangtua mereka. Selain
itu minimnya variasi di bidang pertanian serta kurangnya penghargaan
yang diberikan oleh masyarakat maupun pemerintah kepada petani,
menjadikan profesi petani semakin tidak dilirik oleh generasi saat
ini.
Apa yang penulis gambarkan di
atas sejatinya disebabkan oleh kegagalan dunia pendidikan dalam
menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar mampu berkarya
dengan menggali potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Dalam hal ini
kurikulum yang disusun (khususnya SMK) masih berorientasi pada
pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja industri yang justru lebih
menguntungkan pihak asing daripada pribumi. Di samping itu minimnya
jumlah SMK Pertanian serta tidak seimbangnya rasio antara guru dengan
siswanya semakin menambah suram masa depan pertanian negara yang dulu
dikenal sebagai negeri agraris ini. Pada tahun 2013 lalu saja
tercatat hanya ada 35 SMK Pertanian di Jawa Barat dengan jumlah guru
yang jauh dari memadai.
Kondisi semacam ini tentunya
dapat memberikan kerugian tersendiri bagi masyarakat apabila tetap
dibiarkan. Meroketnya harga bawang yang diikuti oleh melambungnya
harga cabai beberapa bulan lalu dan sempat mengganggu stabilitas
ekonomi nasional, merupakan bukti bahwa bidang pertanian memiliki
potensi cukup besar apabila dikelola dengan baik. Sayangnya,
kesempatan emas itu pun seakan disia-siakan oleh pemerintah.
Banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pabrik maupun
perumahan menunjukkan bahwa pemerintah memang tidak memiliki visi
untuk mengembangkan sektor agraris yang dulu pernah menjadi andalan
negeri ini.
Untuk dapat bangkit kembali
menjadi bangsa yang mandiri, tak ada pilihan bagi pemerintah selain
mengembangkan bidang pertanian sebagai komoditi andalan. Adapun
pendidikan menjadi sarana strategis untuk menyiapkan tenaga terampil
yang mampu memanfaatkan potensi tersebut agar benar-benar memberikan
keuntungan bagi masyarakat. Menyiapkan sekolah-sekolah pertanian
modern dengan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman
merupakan langkah yang perlu ditempuh oleh pemerintahan saat ini.
Dengan demikian, kejayaan yang dulu pernah dulu pernah dicapai oleh
bangsa ini pun dapat diraih kembali !.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar