Model pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah umum perlu dikembangkan agar
lebih interaktif. Karakter PAI yang cenderung normatif dan doktriner
sudah saatnya ditinggalkan. Hal tersebut terungkap dalam sebuah
diskusi bertema “Pendidikan Agama Islam Berbasis Budaya Damai”
yang digelar oleh Analytical and Capacity Development Partnership
(ACDP) di Gedung Kementerian Agama beberapa waktu lalu (“PR”,
06/11/2015). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga
tersebut, diketahui bahwa model pembelajaran PAI yang ada saat ini
masih berorientasi pada kemampuan kognitif peserta didik sehingga
nilai-nilai karakter yang ditanamkan pun tidak terinternalisasi
dengan baik untuk kemudian diaplikasikan. Untuk itu pemerintah pun
mengirimkan 30 guru PAI dari berbagai daerah untuk mengikuti
pelatihan tentang metode pengajaran PAI di Universitas Oxford,
Inggris pada tahun lalu.
Hasil penelitian yang baru
saja dipublikasikan tersebut terang saja menimbulkan reaksi dari
berbagai kalangan, khususnya mereka yang mengajar PAI. Dalam hal ini
guru PAI diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang paling
bertanggungjawab atas gagalnya upaya penanaman karakter pada peserta
didik karena (dianggap) tidak mampu mempersembahkan pembelajaran
yang bermutu. Padahal, keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi, melainkan
dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti bimbingan keluarga maupun
lingkungan dimana anak tinggal. Selain itu dengan mengirimkan para
guru PAI ke luar negeri untuk mempelajari metode pengajaran yang
lebih baik secara tidak langsung telah mengerdilkan kemampuan
lembaga-lembaga pendidikan yang ada dalam memberikan bekal bagi guru
untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter
peserta didik.
Dalam pandangan penulis,
minimnya pengamalan ajaran agama Islam di kalangan pelajar pada
dasarnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, kurangnya keteladanan dari
orangtua untuk menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan yang
tertera dalam Al-Qur'an maupun Sunnah. Di saat guru
mengajarkan anak untuk senantiasa shalat berjamaah di mesjid,
orangtua malah asyik menontol televisi menyaksikan tim sepak bola
kesayangannya bertanding ketika adzan tengah berkumandang. Tak heran
apabila anak pun mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya
Kedua, tayangan media yang
tidak mendidik. Beredarnya tayangan-tayangan “sampah” yang
disuguhkan oleh berbagai stasiun televisi maupun media online
menunjukkan bahwa upaya penanaman nilai-nilai islami yang dilakukan
selama ini tidak didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sebaliknya,
banyaknya godaan maupun rongrongan yang datang setiap saat
mengakibatkan berbagai pesan moral yang disampaikan oleh guru di
sekolah seakan tak berbekas.
Agar upaya penanaman
nilai-nilai karakter tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan
teladan serta partisipasi aktif dari orangtua dalam melakukan
bimbingan kepada anak-anaknya selama mereka berada di rumah. Adapun
pemerintah hendaknya mampu menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif bagi anak dengan cara menertibkan berbagai tayangan yang
berpotensi merusak moral generasi muda. Dengan demikian, lahirnya
generasi yang memiliki budi pekerti luhur pun dapat benar-benar
terwujud.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar