Kebakaran hutan yang melanda
sebagian wilayah Indonesia seakan telah melumpuhkan kehidupan
masyarakat di berbagai sektor, termasuk bidang pendidikan. Beberapa
daerah terpaksa meliburkan siswanya selama satu bulan atau bahkan
lebih akibat polusi udara yang telah mencapai level sangat berbahaya.
Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap persiapan Ujian Nasional
(UN) yang tengah dilakukan oleh para siswa. Usulan untuk menunda
pelaksanaan UN pun dikemukakan oleh sekolah-sekolah yang terkena
dampak kabut asap tersebut. Tak hanya itu, beberapa siswa serta
kepala sekolah memberanikan diri untuk membuat surat terbuka kepada
presiden agar segera turun tangan untuk menyelesaikan masalah kabut
asap yang telah menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat.
Pelaksanaan UN yang tinggal
beberapa bulan lagi memang tengah menjadi fokus perhatian sekolah
saat ini. Sekalipun nilai UN tersebut tidak lagi dijadikan patokan
dalam menentukan kelulusan siswa, hal ini tetap berpengaruh terhadap
proses seleksi siswa pada jenjang pendidikan selanjutnya. Siswa
dengan nilai UN cukup tinggi tentunya lebih berpeluang untuk diterima
di sekolah lanjutan maupun perguruan tinggi favorit.
Di sisi lain terganggunya
proses kegiatan belajar mengajar akibat pekatnya kabut asap sebaiknya
menjadi catatan bagi pemerintah dalam melaksanakan UN tahun 2016
mendatang. Siswa yang tinggal di daerah-daerah bencana tidak
seharusnya diperlakukan sama dengan mereka yang berada di lingkungan
kondusif. Dalam hal ini diperlukan sebuah kebijakan strategis yang
mampu mengakomodir kepentingan bersama sehingga tidak ada siswa yang
merasa dirugikan.
Adapun terkait usulan untuk
menunda pelaksanaan UN pada tahun ajaran ini nampaknya dapat
dijadikan salah satu solusi yang layak untuk dipertimbangkan.
Memaksakan UN secara serentak sesuai dengan yang telah direncanakan
tentunya hanya akan menghasilkan kompetisi yang tidak sehat. Selain
itu para guru akan berlomba untuk menyampaikan materi
sebanyak-banyaknya demi mengejar ketertinggalan sehingga siswa akan
merasa terbebani. Pada akhrinya, motivasi belajar siswa pun akan
semakin berkurang akibat adanya tekanan untuk segera menguasai
materi.
Untuk menjaga semangat
belajar siswa, ada baiknya apabila pemerintah meninjau kembali jadwal
pelaksanaan UN khusus untuk daerah-daerah yang terkena bencana kabut
asap. Memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk mempelajari
materi-materi yang belum tersampaikan, diharapkan mampu memberikan
kesempatan bagi mereka untuk dapat bersaing secara sehat dengan siswa
yang tinggal di daerah lainnya. Adapun untuk soal UN yang akan
diujikan, sebaiknya pemerintah mempersiapkan soal khusus dengan bobot
yang relatif sama. Dengan demikian, tidak ada pihak yang akan
dirugikan akibat dari ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan
lingkungan yang bersih dan sehat bagi warganya.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar