Menyikapi fenomena lunturnya
nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme di kalangan masyarakat,
pemerintah pun melakukan terobosan
dengan mencanangkan program bela negara sebagai program yang wajib diikuti oleh
seluruh warga yang berusia di bawah 50 tahun. Program yang digagas oleh
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tersebut rencananya akan dilaksanakan secara
berkelanjutan hingga tahun 2025 dan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
Adapun materi yang akan diberikan kepada para peserta antara lain ; pemahaman
empat pilar negara, sistem pertahanan semesta dan pengenalan alutsista TNI,
cinta tanah air, sadar bangsa, rela berkorban, serta Pancasila sebagai dasar
negara. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan selama sebulan penuh, seluruh
kader bela negara tersebut dapat memiliki kedisiplinan dan kecintaan yang lebih
terhadap tanah airnya.
Pada
kondisi yang lain, kasus pengeroyokan
yang menewaskan seorang aktivis lingkungan Salim Kancil kini tengah memasuki
babak baru. Berdasarkan pengakuan dari kepala desa setempat yang juga merupakan
salah satu tersangka, hasil tambang ilegal yang terletak di kabupaten Lumajang,
Jawa Timur tersebut mengalir ke berbagai pihak seperti aparat kepolisian, LSM
hingga wartawan. Kapolri pun segera memerintahkan penyidik untuk mengusut
tuntas kasus ini. Bahkan, Kapolri pun
memperkenankan para penyidik untuk memeriksa bupati serta anggota DPRD
kabupaten Lumajang untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan pemerintah daerah
dalam tragedi yang telah menghilangkan nyawa seorang manusia tersebut.
Tragedi
yang menimpa Salim Kancil tersebut menunjukkan bukti bahwa ancaman terhadap
kedulatan republik ini bukanlah datang dari luar, melainkan dari dalam negeri
sendiri. Meningkatnya kemiskinan dan bertambahnya jumlah pengangguran di negeri
yang kaya akan sumber daya alam ini sejatinya disebabkan oleh merajalelanya
budaya korupsi di kalangan para pejabatnya.
Hal ini tak terlepas dari belum ditegakannya hukum sebagaimana mestinya.
Bahkan, dalam beberapa kasus, hukum justru dijadikan alat oleh penguasa untuk
melanggengkan kekuasaannya maupun menghantam lawan-lawan politiknya.
Di
sisi lain materi bela negara yang dipelajari oleh anak-anak kita sejak di
bangku sekolah hingga perguruan tinggi dianggap belum mampu melahirkan generasi
yang benar-benar memiliki kecintaan terhadap tanah airnya. Ironisnya, guru
dianggap sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggungjawab atas
“kegagalan” tersebut. Sementara pemerintah yang selama ini terkesan menyediakan
karpet merah bagi pengusaha asing maupun tenaga kerja asing, sama sekali tidak
mau dipersalahkan atas berbagai permasalahan terkait kesejahteraan rakyatnya.
Tak hanya itu, sikap “ramah” pemerintah terhadap para koruptor maupun
pengemplang pajak seakan dianggap sebuah “prestasi” yang layak untuk
dibanggakan selama setahun kepemimpinan Jokowi – Jusuf Kalla. Prinsip-prinsip
Nawacita yang dulu diusung saat kampanye pasangan ini pun lebih dirasakan
Dukacita oleh sebagian besar masyarakat.
Apa
yang penulis gambarkan di atas menunjukkan bukti bahwa yang dibutuhkan oleh
bangsa ini bukanlah sekedar materi yang disampaikan di bangku sekolah maupun
pelatihan-pelatihan singkat. Bangsa yang besar ini membutuhkan sosok - sosok
pemimpin yang mampu menyelaraskan antara perkataan dan perbuatanya. Kecintaan
pada tanah airnya tercermin dari berbagai kebijakan yang dikeluarkannya, bukan
pada memukaunya isi pidato yang dibacakannya maupun janji-janji manis yang
pernah diucapkannya. Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh para pemimpin kita
pun dapat dijadikan contoh oleh rakyat yang dipimpinnya sehingga menjadi energi
positif bagi mereka untuk membela negaranya sesuai dengan kapasitas
masing-masing.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar