Pemanggilan walikota Bandung
Ridwan Kamil oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat beberapa waktu lalu
cukup mengejutkan banyak pihak. Pria yang akrab disapa Kang Emil ini
datang dalam kapasistasnya sebagai saksi terkait dana hibah yang
diterimanya saat memimpin Bandung
Creative City Forum
(BCCF) pada tahun 2012 lalu. Saat itu komunitas kreatif yang
dipimpinnya tersebut menerima dana hibah sebesar 1,3 milyar yang
kemudian digunakan untuk berbagai kegiatan. Emil sendiri mengaku
bahwa seluruh penggunaan dana tersebut telah dilaporkan ke Bagian
Perekonomian Kota Bandung pada tahun 2013 serta dinyatakan tidak
bermasalah oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Sama halnya dengan Ridwan
Kamil, beberapa pekan sebelumnya Kejaksaan Agung melayangkan surat
panggilan kepada Ricky Elson. Pemuda yang dikenal sebagai salah satu
pelopor mobil nasional dan pernah mengharumkan nama bangsa melalui
karyanya dalam ajang KTT APEC di Bali pada tahun 2013 tersebut,
dipanggil sebagai saksi untuk kasus yang membelit rekan seprofesinya,
Dasep Ahmadi. Dasep merupakan tersangka kasus korupsi pengadaan 16
mobil listrik untuk tahun anggaran 2013 yang kini telah ditahan oleh
pihak Kejagung. Namun, “undangan” Kejagung tersebut dijawab Elson
dengan sebuah pantun yang kemudian diunggah melalui akun facebook
nya.
Apa yang dialami oleh Emil
maupun Elson tentunya menjadi sebuah ironi di negeri yang tengah
berupaya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Prestasi yang
ditorehkan oleh putra - putra terbaik bangsa itu bukannya diganjar
dengan apresiasi yang setinggi-tingginya, namun dibalas dengan
(upaya) kriminalisasi yang justru dapat mematikan potensi serta
karier mereka. Padahal, jasa kedua putra bangsa tersebut dalam
membangun bangsa ini begitu besar sehingga layak apabila disebut para
pahlawan masa kini.
Sepanjang perjalanan
kariernya, beragam penghargaan dalam dan luar negeri berhasil diraih
oleh Ridwan Kamil. Mulai dari Urban Leadership Award (USA),
Top Ten Architecture Business Award (BCI Asia), sampai dengan
Google Chrome Web Heroes untuk Indonesia Berkebun
diperolehnya dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Tak hanya
itu, berkat kemampuannya dalam mempercantik wajah kota Bandung serta
keberhasilannya melakukan reformasi birokrasi, Bandung pun terpilih
sebagai tuan rumah peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia pada tahun
ini.
Adapun Elson, pemuda enerjik
yang dijuluki “Putra Petir” merupakan salah satu putra bangsa
yang berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah
Internasional. Pemuda kelahiran Padang ini merupakan pemegang belasan
hak paten di bidang motor listrik saat berkarya di negara Jepang.
Kiprahnya di negeri sakura tersebut membuat Dahlan Iskan berupaya
keras membujuknya untuk mengembangkan mobil listrik di tanah air saat
beliau menjabat Menteri Negara BUMN. Alhasil, mobil listrik model
Supercar buatan Eropa pun berhasil mengaspal di jalan dan
mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat.
Sayangnya, bunga-bunga bangsa
yang tengah mekar itu harus gugur akibat ambisi pihak-pihak tertentu
yang ingin memperoleh kekuasaan maupun menjaga kepentingan
ekonominya. Sosok Ridwan Kamil yang begitu dikagumi oleh rakyat
karena kinerjanya yang sangat baik namun sedikit bicara, dianggap
sebagai ancaman bagi mereka yang (mungkin) akan mencalonkan diri
dalam pesta demokrasi untuk level yang lebih tinggi. Adapun Ricky
Elson, pemuda yang telah menginspirasi generasi muda untuk mampu
berdikari, dikhawatirkan dapat menganggu kepentingan ekonomi negara
asing yang telah menancapkan kuku-kukunya di Indonesia selama
berpuluh-puluh tahun. Dengan kata lain, saat bangsa ini mampu
memenuhi kebutuhannya sendiri, ada pihak lain yang akan kehilangan
mata pencahariannya.
Fenomena (upaya)
kriminalisasi terhadap orang-orang yang justru telah menunjukkan
prestasi di bidangnya sebenarnya bukanlah hal baru. Kasus dugaan
pembunuhan berencana yang dituduhkan kepada mantan ketua KPK Antasari
Azhar sejatinya merupakan bentuk perlawanan yang dilancarkan oleh
para konglomerat hitam maupun politisi busuk. Sepak terjang Antasari
saat memimpin lembaga anti rasuah itu memang membuat mereka tak
leluasa untuk bergerak. Tak tanggung-tanggung, mulai dari kepala
daerah, anggota DPR, pejabat BUMN sampai dengan para pengusaha curang
berhasil dijeratnya. Namun, langkah berani pahlawan anti korupsi
tersebut harus terhenti manakala beliau tengah mengusut sebuah mega
skandal yang diduga melibatkan pejabat penting saat itu. Pada
akhirnya, Antasari pun terpaksa dijadikan “tumbal” demi
mengamankan “kepentingan negara” yang lebih besar.
Berkaca dari pengalaman
ketiga tokoh di atas, tak heran apabila banyak yang berpendapat bahwa
bangsa yang besar ini “belum” begitu membutuhkan orang-orang
cerdas dan ahli di bidangnya. Bangsa yang tengah belajar berdemokrasi
ini lebih memerlukan orang-orang yang hanya mampu membuat sebuah
website asal-asalan dengan dana yang fantastis. Semakin
banyaknya putra-putra bangsa yang lebih memilih untuk berkiprah di
negeri orang pada dasarnya disebabkan oleh ketidakmampuan atau bahkan
ketidakinginan pemerintah saat ini untuk menghargai hasil karya
mereka. Dalam hal ini makna nasionalisme pun seharusnya menjadi bahan
pemikiran pemerintah sendiri, bukan para ilmuwan kita yang tengah
berkarya di negara lain.
Keberhasilan Ridwan Kamil
dalam menata kota Bandung maupun kegigihan Ricky Elson dalam
membangkitkan semangat generasi muda untuk berkarya bisa jadi
diganjar dengan tiket untuk masuk penjara. Namun, seperti kata
pepatah, berlian tetaplah berlian sekalipun ia berada dalam kubangan
lumpur. Masyarakat akan tetap memandang mereka sebagai pahlawan yang
telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan bangsanya.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar