Adanya
tuntutan bagi para remaja untuk memiliki kemampuan dalam mencerna
berbagai informasi yang diterima kini terjawab sudah. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) saat ini tengah mencanangkan Gerakan
Nasional Remaja Melek Media. Program yang dideklarasikan di kota
Padang beberapa waktu lalu tersebut bertujuan untuk menumbuhkan
kemampuan kritis para pelajar Indonesia.
Harapannya, remaja
yang terdiri dari kalangan pelajar dan mahasiswa ini dapat memilih
serta memilah informasi yang ada untuk kemudian memanfaatkannya
dengan baik. Bahkan, dengan kemampuan yang dimilikinya tidak mustahil
para pelajar akan mampu berperan sebagai produsen informasi yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
Derasnya
arus informasi sebagai dampak dari pesatnya perkembangan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) memang menjadi hal yang tak dapat
dihindarkan. Jika dahulu informasi hanya menjadi milik pengusaha
media, maka hari ini siapa pun mampu menyuguhkan beragam informasi
tanpa terkendala oleh ruang dan waktu. Dunia maya rupanya telah
menjadi pilihan utama bagi masyarakat modern untuk berinteraksi
dengan sesama maupun sekedar mencari informasi yang dibutuhkan.
Fenomena ini pun secara perlahan telah mampu merubah tatanan sosial
serta perilaku masyarakat di kehidupan nyata.
Beredarnya
berbagai informasi yang jauh dari nilai-nilai objektivitas maupun
diragukan tingkat kebenarannya merupakan salah satu tantangan yang
dihadapi oleh remaja yang hidup di era digital seperti saat ini.
Remaja yang tengah berada di persimpangan jalan tak jarang menjadi
sasaran empuk pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan secara
politik maupun ekonomi. Pesta demokrasi lima tahunan yang digelar
beberapa bulan lalu membuktikan bagaimana beragam informasi “sampah”
sengaja disebarkan untuk mempengaruhi remaja yang sebagian besar
belum menentukan pilihan (swing voters). Alhasil,
masing-masing tim sukses kandidat pun seakan berlomba untuk
menjatuhkan lawan-lawan politiknya dengan jalan saling menjatuhkan
nama baiknya. Tak heran apabila remaja pun menganggap dunia politik
sebagai dunia yang penuh noda sehingga tidak sedikit remaja yang
lebih memilih untuk golput.
Mengingat
pentingnya kemampuan untuk mencerna informasi bagi remaja, sudah
selayaknya sekolah menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk
mengasah daya kritisnya terhadap berbagai informasi yang diterima.
Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu memberikan penjelasan secara
menyeluruh tentang eksistensi serta visi misi yang dimiliki oleh
media. Tak hanya itu, guru pun diharapkan mampu merangsang siswa
untuk mau menuangkan ide maupun gagasan yang dimilikinya dalam bentuk
tulisan. Adapun mading sekolah maupun buletin yang terbit secara
rutin bisa menjadi sarana bagi siswa untuk mengaktualisasikan dirinya
maupun sekedar berbagi informasi. Pada akhirnya, diharapkan akan
lahir generasi yang benar-benar mampu menyikapi berbagai fenomena
yang berkembang dalam kehidupan masyarakat secara bijak.(Dimuat di Harian Umum Republika, 13 September 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar