Menunggu pemerintah untuk
menyelenggarakan berbagai program peningkatan kompetensi guru secara
berkala ibarat mengharapkan turunnya salju di musim kemarau. Minimnya
anggaran yang dialokasikan dalam APBN maupun APBD menunjukkan bukti
bahwa peningkatan kompetensi guru belum menjadi prioritas pemerintah
(daerah) dalam upaya memperbaiki wajah dunia pendidikan di negeri
ini. Pemerintah baru sebatas berupaya untuk meningkatkan
kesejahteraan (sebagian) pendidik melalui program sertifikasi guru
yang menurut sebagian kalangan terlihat lebih mirip dengan lomba
panjat pinang. Setali tiga uang, organisasi guru yang diharapkan
mampu menjadi wadah untuk memperjuangkan kepentingan guru serta
meningkatkan profesionalismenya, malah tak jarang menjadi kendaraan
politik pihak-pihak tertentu yang ingin meraih kekuasaan.
Di tengah tingginya kebutuhan
akan peningkatan kompetensi guru tersebut, berbagai komunitas guru
pun lahir. Berawal dari diskusi rutin yang dilakukan oleh para guru
di ruang-ruang dunia maya, mereka pun kemudian membentuk komunitas
dan menyelenggarakan berbagai kegiatan di dunia nyata. Bahkan, tak
jarang komunitas yang lahir di dunia maya tersebut menjadi embrio
atau cikal bakal berdirinya organisasi-organisasi guru baru.
Adapun Komunitas Sejuta Guru
Ngeblog (KSGN) merupakan salah satu dari sekian banyak komunitas guru
yang memberikan perhatian penuh terhadap upaya peningkatan kompetensi
guru di tanah air. Berbagai kegiatan telah sering diselenggarakan
oleh komunitas yang baru menginjak usia setahun ini. Mulai dari
mengajarkan guru untuk membuat blog, menyusun Penelitian Tindakan
Kelas (PTK), sampai dengan menyelenggarakan seminar tentang public
speaking, menjadi kegiatan rutin komunitas ini dalam upaya
meningkatkan kompetensi profesional para guru. Seluruh kegiatan
tersebut dapat diikuti oleh para guru dengan biaya yang sangat
terjangkau atau bahkan gratis. Guru hanya diminta untuk menyediakan
tempat serta peralatan yang diperlukan untuk menggelar sebuah
pelatihan sesuai dengan kebutuhan.
Melihat besarnya kesempatan
yang diberikan oleh komunitas tersebut dalam meningkatkan kompetensi
para guru, tak ada alasan bagi guru untuk tidak memanfaatkan peluang
ini dengan sebaik-baiknya. Setiap kegiatan yang diselenggarakan
hendaknya dijadikan sarana untuk meningkatkan kompetensinya. Hal ini
dikarenakan dunia pendidikan bersifat dinamis yang senantiasa
berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan kurikulum (seumur jagung),
perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat serta perbedaan
karakteristik peserta didik dari waktu ke waktu sejatinya merupakan
tantangan yang senantiasa dihadapi oleh setiap pendidik. Untuk itu
diperlukan bekal yang lebih dari cukup bagi guru untuk mampu
melaksanakan tugas-tugasnya.
Berdasarkan penjelasan di
atas, penulis mengajak seluruh guru agar memanfaatkan keberadaan
komunitas guru dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, guru pun akan
dapat memperoleh “suplemen” yang cukup saat akan mendidik putra –
putri terbaik bangsa di tengah ketidakmampuan pemerintah (daerah)
dalam “merawat” aset yang sangat berharga ini.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar