Kisruh terkait
pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang terjadi di kota Bandung
tahun ini sedikitnya memberikan gambaran betapa (masih) dirindukannya
sekolah-sekolah negeri terutama yang menyandang label favorit sebagai
(satu-satunya) tempat yang mampu “menyulap” potensi serta karakter anak dalam
waktu sekejap. Beratnya “medan” yang
harus ditempuh oleh orangtua, nyatanya tak sedikit pun membuat mereka menyerah
untuk tetap menitipkan buah hatinya agar dapat meraih masa depan yang lebih
baik. Bahkan, tidak sedikit dari orangtua yang nekat mengambil “jalan pintas”
maupun “pintu belakang” demi mendapatkan
kursi bagi anak-anaknya. Beredarnya SKTM bodong yang sempat menjadi
sorotan masyarakat pun menjadi fenomena yang mewarnai hajatan tahunan tersebut.
Bagi sebagian kalangan, tingginya
animo masyarakat untuk mendaftarakan anak-anaknya di sekolah-sekolah negeri
(favorit), merupakan indikator kegagalan orangtua dalam menjalankan perannya
sebagai salah satu pihak yang menentukan keberhasilan proses pendidikan. Dalam
hal ini sekolah (favorit) dianggap sebagai satu-satunya pihak yang
bertanggungjawab terhadap perkembangan akademik serta pembentukan karakter
peserta didiknya. Orangtua merasa bahwa kewajiban mereka hanyalah sebatas
membayar iuran bulanan serta membiayai berbagai kebutuhan anaknya tanpa mau
sedikit pun terlibat dalam proses pendidikan anaknya. Padahal, tercapainya
tujuan pendidikan akan sangat bergantung pada sejauh mana partisipasi orangtua
dalam menindaklanjuti proses pendidikan yang dilakukan oleh para guru di
sekolah.
Apa yang penulis gambarkan di atas
sejatinya disebabkan oleh masih dianutnya paradigma (kuno) yang memandang bahwa
sekolah unggul adalah sekolah dengan passing grade cukup tinggi. Dalam
hal ini sekolah diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang bertangungjawab
terhadap keberhasilan proses pendidikan anaknya. Di samping itu gaya hidup
masyarakat “modern” saat ini dimana sosok seorang ibu yang lebih banyak
berperan di luar rumah sebagai wanita karier untuk membantu atau bahkan
“menyaingi” sang ayah, mengakibatkan anak kurang merasakan kasih sayang dan
perhatian dari orangtua. Tak heran apabila berbagai permasalahan pun muncul
sebagai akibat dari proses pendidikan yang berjalan secara parsial.
Untuk menggugah peran aktif orangtua
dalam proses pendidikan anak, setiap sekolah hendaknya mampu membangun
komunikasi yang baik dengan para orangtua. Mengoptimalkan peran komite sekolah
sebagai jembatan yang menghubungkan orangtua dengan guru, merupakan langkah
yang harus diambil. Di samping itu wali kelas pun diharapkan aktif menggali
informasi tentang berbagai kendala yang dihadapi oleh orangtua dalam mendidik
anaknya, salah satunya dengan malakukan kunjungan ke rumah atau home
visit. Dengan begitu, orangtua pun
akan lebih terbuka dalam mengutarakan berbagai persoalan yang mereka miliki
serta harapan-harapannya kepada pihak sekolah.
Dengan adanya upaya serius dari
pihak sekolah dalam merangkul orangtua,
diharapkan mereka pun dapat berpartisipasi aktif dalam melanjutkan proses
pendidikan yang dilakukan oleh guru di sekolah. Dengan demikian, (mitos)
sekolah favorit sebagai sekolah unggul dapat dihapuskan dari benar masyarakat
dan proses pendidikan pun dapat dilaksanakan secara menyeluruh serta tidak lagi
berjalan secara parsial.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar