Bulan suci ramadhan yang penuh
berkah dan ampunan itu baru saja meninggalkan kita. Hari kemenangan
pun datang dan “menyapa“ mereka yang berhasil melewati ujian
selama sebulan penuh. Setelah memenuhi kewajibannya menjalankan
ibadah puasa, setiap muslim dinyatakan kembali kepada fitrahnya
sebagai insan yang bersih jiwanya ibarat bayi yang baru dilahirkan.
Bulan ramadhan pada
hakikatnya merupakan bulan pendidikan (tarbiyyah). Pada bulan
ini setiap manusia dididik untuk senantiasa menjalankan perintah
agama serta menjauhi larangannya. Bagi seorang pendidik, ramadhan
merupakan masa dimana mereka belajar untuk memperbaiki diri sebelum
mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya. Adapun Idul Fitri
sejatinya merupakan gerbang awal sekaligus ujian bagi para pendidik
yang akan menentukan apakah proses pendidikan yang dijalaninya selama
sebulan penuh tersebut benar-benar memberikan dampak positif dalam
kehidupan setelahnya.
Datang kesiangan, tidak
menyiapkan perangkat pembelajaran serta sering pulang sebelum
waktunya merupakan “dosa profesi” yang biasa dilakukan oleh para
guru kita di luar bulan suci ramadhan. Selain itu, sikap selalu
mendahulukan hak daripada kewajiban seakan masih mewarnai perjalanan
hidup sebagian pendidik kita. Tak heran apabila kualitas maupun
integritas generasi yang dihasilkan pun masih jauh dari harapan.
Tawuran antar pelajar,
pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba seakan menjadi
pemandangan rutin yang biasa kita saksikan di layar kaca. Remaja yang
sejatinya diharapkan mampu menjadi generasi penerus untuk melanjutkan
jalannya pembangunan di masa yang akan datang, malah menjadi beban
bagi masyarakat. Berbagai penyakit pun mulai menggerogoti mereka dan
pada akhirnya APBN pun terkuras untuk membiayai pengobatan mereka.
Untuk memperbaiki wajah dunia
pendidikan kita, sudah saatnya para guru kembali pada fitrahnya
sebagai seorang pendidik yang benar-benar berorientasi pada
kepentingan peserta didiknya. Peningkatan presatasi akademik serta
pembentukan karakter siswa hendaknya menjadi prioritas utama daripada
yang lainnya. Hal ini dikarenakan setiap pendidik tidak hanya
bertanggungjawab kepada atasan, namun juga akan kepada Rabbnya.
Berdasarkan gambaran di
atas, marilah kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum
untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan peran seorang pendidik
dalam menjalankan tugas “suci” yang diberikan. Oleh karenanya,
tidak sepantasnya tugas mulia ini dinodai oleh berbagai pelanggaran
kode etik profesi hanya karena bulan ramadhan sudah lewat.
Sebaliknya, hari-hari setelah bulan ramadhan sejatinya merupakan
ajang pembuktian bahwa proses tarbiyyah yang kita lakukan
selama sebulan penuh, benar-benar dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian setiap pendidik pun akan mampu kembali
pada fitrahnya yaitu sebagai penerang dalam gulita.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar