Siswa yang saat ini tengah duduk di
bangku kelas XII SMA maupun SMK nampaknya harus bersiap untuk meninggalkan
almamaternya dalam rangka menjalani kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Persiapan pun dilakukan oleh Kemenristek
Dikti bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) guna mennyambut para
calon pembaharu tersebut di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sebagaimana
tahun-tahun sebelumnya, terdapat tiga jalur yang dapat ditempuh oleh para
siswa, yaitu SNMPTN, SBMPTN dan UM. Selain itu beberapa komponen seperti nilai
Ujian Nasional (UN), hasil akreditasi sekolah serta rekam jejak alumni sekolah
tersebut di PTN yang dituju, akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan
kelulusan mereka.
Di sisi lain tingginya jumlah
pengangguran terdidik menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi oleh
bangsa yang besar ini. Jumlah lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan setiap
tahunnya, ternnyata tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia.
Akibatnya, perguruan tinggi pun tak jarang dijadikan kambing hitam karena
dianggap hanya mampu melahirkan para pengangguran yang menjadi beban bagi
masyarakat. Padahal, persoalan yang sebenarnya bukan karena perguruan tinggi
tidak mampu menyalurkan para lulusannya, melainkan tidak jelasnya orientasi
yang dimiliki oleh para mahasiswa saat mereka memutuskan untuk duduk di bangku kuliah.
Jika kita amati, kebanyakan siswa yang memilih PTN tertentu
terutama PTN favorit ternyata lebih dilatarbelakangi oleh keinginan untuk
menyandang status mahasiswa di kampus tersebut, bukan untuk menimba ilmu untuk
dapat meraih cita-citanya. Mereka cenderung lebih memilih brand dibandingkan jurusan yang diminati. Tak heran apabila
strategi yang mereka gunakan pun adalah dengan cara memilih jurusan-jurusan
yang sepi peminat dengan harapan mereka bisa lolos sekalipun jurusan tersebut
tidak sesuai dengan keinginan mereka
Akibatnya,
menuntut ilmu diperguruan tinggi pun tidak lagi menjadi tujuan para mahasiswa.
Yang ada didalam pikiran mereka hanyalah “status” sebagai mahasiswa perguruan
tinggi tersebut atau dengan kata lain nu
penting gaya. Akibatnya, proses
pembelajaran di kampus selama kurang
lebih lima tahun pun tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tak heran saat
mereka lulus, bidang pekerjaan yang mereka geluti pun tak jarang jauh dari
disiplin ilmu yang mereka ambil pada waktu kuliah.
Adanya sarjana pertanian yang bekerja sebagai Teller di Bank atau
sarjana hukum yang menjadi pedagang di
pasar merupakan fenomena yang tak terbantahkan.
Yang lebih tragis lagi, tidak sedikit dari lulusan perguruan tinggi kita
yang menjadikan profesi pendidik sebagai pilihan terakhir karena tidak ada lagi
lapangan pekerjaan yang tersedia. Tak heran apabila kualitas kinerja mereka pun
jauh dari memadai. Sarjana-sarjana seperti ini tentulah bukan tipe sarjana yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Bangsa ini sudah terlalu lama “berpuasa” untuk
mendapatkan orang-orang yang kompeten dibidangnya.
Berdasarkan
gambaran di atas, ada baiknya para calon mahasiswa tersebut sejak awal
menentukan orientasinya untuk duduk di bangku kuliah. Mengambil jurusan yang
benar-benar diminati jauh lebih penting dari sekedar menyandang gelar mahaiswa
di perguruan tinggi favorit. Dalam hal ini sekolah diharapkan mampu meyakinkan
para siswanya bahwa status perguruan tinggi bukanlah penentu kesuksesan mereka di kemudian
hari, akan tetapi kerja keras merekalah yang akan mengantarkan mereka ke puncak
kesuksesan. Dengan demikian, diharapkan
di masa yang akan datang tidak lagi ditemukan sarjana-sarjana yang melakukan
tindakan “mal praktik”. (Dimuat di Harian Umum
Republika, Edisi 19 April 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar