Ujian Nasional
(UN) untuk tingkat SMA / SMK yang
dilaksanakan dalam pekan ini nampaknya akan menjadi tonggak sejarah bagi
dunia pendidikan di tanah air. Pasalnya, mulai tahun ini pemerintah memutuskan
untuk menggelar hajatan tahunan tersebut secara online bagi
sekolah-sekolah yang telah dinyatakan siap. Selain memiliki tingkat akurasi
yang sangat tinggi dalam melakukan proses pengolahan data, ujian berbasis
komputer tersebut diharapkan mampu menekan biaya yang harus dikeluarkan oleh
pemerintah sehingga tercipta efisiensi anggaran. Di samping itu, dengan
memanfaatkan teknologi informasi dalam penyusunan soal ujian maupun pengolahan
hasil pekerjaan siswa, berbagai kecurangan seperti yang terjadi selama ini pun
dapat dicegah sejak dini. Namun benarkah demikian ?
Terciptanya efisiensi anggaran
sebagai konsekuensi logis dari pemanfaatan teknologi informasi dalam Ujian Nasional
memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Penggandaan soal ujian serta pengamanannya
merupakan dua komponen yang menghabiskan anggaran cukup besar setiap kali
hajatan tahunan tersebut digelar. Namun demikian, adanya anggapan bahwa ujian
berbasis komputer (Computer Base Test) dapat sepenuhnya menjamin
pelaksanaan UN secara jujur dan transparan, nampaknya perlu kita renungkan
kembali. Hal tersebut setidaknya dapat kita lihat dari dua aspek.
Pertama, belum adanya kejelasan tentang waktu
pengumuman hasil UN bagi sekolah-sekolah yang melaksanakannya secara online,
menjadi tanda tanya besar bagi sebagian kalangan. Apakah siswa dapat melihat
langsung nilai yang diperolehnya sesaat setelah mereka selesai mengerjakan
seluruh soal, ataukah harus menunggu beberapa pekan setelahnya sebagaimana
rekan-rekan mereka yang melaksanakan UN secara konvensional. Secara teknis,
setiap peserta (seharusnya) dapat melihat langsung hasil pekerjaan mereka.
Bahkan, siswa dapat mengetahui jumlah jawaban yang benar dan salahnya. Hal ini
tentunya bergantung pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam merancang aplikasi yang dibuat oleh
para programmer nya.
Kedua, dengan jumlah sekolah
rintisan yang hanya mencapai 585 sekolah, penulis berpandangan bahwa UN online
perdana yang dilaksanakan tahun ini memang akan berlangsung secara jujur dan
transparan. Hal ini dikarenakan sekolah-sekolah yang melaksanakan UN online
tersebut merupakan sekolah yang sudah mapan dan memiliki reputasi sangat baik
sehingga pemerintah tidak perlu merasa khawatir. Lain halnya apabila UN online
tersebut diikuti oleh seluruh sekolah di tanah air. Dengan karakteristik
sekolah yang sangat beragam, pemerintah tentu memiliki kepentingan untuk
“menjaga wibawa” nya di hadapan rakyat maupun negara lainnya. Artinya, hasil UN
yang diperoleh siswa sangat mungkin “diolah kembali” sesuai dengan kebutuhan di
lapangan dan hal itu tidaklah sulit bagi para ahli di bidang IT.
Berdasarkan penjelasan di atas,
pengawasan masyarakat terhadap pelaksanaan UN online ini tetap
diperlukan. Tak hanya itu, para pegiat IT pun dapat diminta pandangannya
apabila suatu saat terjadi kekeliruan di lapangan. Dengan demikian, diharapkan
UN online tersebut benar-benar menjadi sebuah terobosan di dunia
pendidikan dan tidak membuka celah baru bagi pihak-pihak tertentu untuk
melakukan kecurangan. (Dimuat di Harian Umum Republika, Edisi 14 April 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar