Laporan UNESCO yang menyatakan
bahwa indeks membaca orang Indonesia baru mencapai 0,001 % hendaknya
menjadi perhatian kita bersama. Laporan yang dirilis pada tahun 2012
tersebut juga menyebutkan bahwa Indonesia terpaut jauh dari Singapura
dan Hongkong yang memiliki indeks membaca mencapai 0,55 %. Artinya,
jika di Indonesia satu buku dibaca oleh seribu orang, maka di kedua
negara tersebut seribu orang sedikitnya membaca 550 buku. Hal ini
tentunya berpengaruh pula terhadap minat menulis masyarakat kita yang
juga kurang menggembirakan.
Adapun pangkal persoalan
utama rendahnya minat membaca tersebut antara lain karena kurang
berfungsinya perpustakaan sebagai jantungnya sekolah. Perpustakaan
yang ada cenderung tidak dikelola dengan baik sehingga terkesan
kurang dibutuhkan oleh siswa. Mereka datang ke perpustakaan hanya
demi mendapatkan referensi untuk mengerjakan tugas yang diberikan
oleh guru, selebihnya mereka mereka pun jarang datang lagi. Selain
itu kondisi perpustakaan yang tidak terawat semakin membuat siswa
malas untuk berkunjung.
Akibatnya, perpustakaan pun
tak lagi menjadi tempat favorit siswa untuk membaca dan berdiskusi
namun lebih terlihat seperti toko buku yang buku-bukunya masih
disegel dengan rapih. Lebih menghawatirkan lagi, tak jarang
perpustakaan menjadi sarang cakcak, cucunguk, lancah maung jeung
sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa. Alhasil, budaya
literasi yang (seharusnya) merupakan cirri khas seorang pembelajar
pun tak nampak lagi.
Untuk memperbaiki kondisi
semacam ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak
sekolah. Pertama, menciptakan atmosfer membaca yang nyaman. Dalam hal
ini, sekolah bisa menata ruang perpustakaan senyaman mungkin sehingga
siswa betah berlama-lama diperpustakaan. Selain itu, lokasi
perpustakaan sebaiknya agak jauh dari keramaian seperti kantin
sekolah maupun lapangan olahraga. Hal ini agar bertujuan agar
tercipta suasana tenang yang tidak mengganggu kegiatan membaca siswa.
Kedua, menyediakan buku-buku
baru terutama yang isinya berkenaan langsung dengan kehidupan siswa
sehari-hari tentu akan sangat menarik perhatian siswa. Selain itu,
tersedianya buku-buku yang sesuai dengan minat siswa diharapkan akan
membuat mereka untuk rajin mengunjungi perpustakaan. Untuk itu,
diperlukan political will yang kuat dari pihak sekolah karena
hal ini akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pimpinan sekolah yang
disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang dimiliki.
Ketiga, membuat slogan-slogan
yang berisi pesan edukatif dengan bahasa yang menarik. Slogan-slogan
ajakan membaca tersebut dapat ditempel disetiap sudut-sudut sekolah,
mulai dari gerbang utama, depan kelas, maupun didepan lapangan
sekolah. Dengan seringnya siswa melihat slogan-slogan ini,diharapkan
dapat meningkatkan motivasi mereka untuk membaca.
Dengan adanya upaya-upaya
tersebut kita berharap akan tercipta sebuah generasi yang gemar
membaca. Dengan begitu kita pun akan mampu mengejar ketertinggalan
dari bangsa lainnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.(Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal Februari 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar