Seleksi ujian masuk perguruan
tinggi negeri (PTN) yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke
depan, hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah maupun
pihak kampus untuk mendapatkan calon mahasiswa yang benar-benar layak
duduk di bangku kuliah. Kualitas proses seleksi yang dilakukan
tentunya akan sangat berpengaruh terhadap output yang dihasilkan.
Oleh karena itu, menyaring calon-calon mahasiswa seobjektif mungkin
merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Berdasarkan pengalaman tahun
lalu, ada tiga jalur yang digunakan sebagai tiket masuk PTN. Pertama,
jalur undangan. Jalur undangan atau yang lebih dikenal dengan Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) merupakan jalan yang
dapat diambil oleh calon mahasiswa tanpa melalui tes (tulis). Adapun
yang dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak PTN antara lain : nilai
raport, nilai Ujian Nasional (UN) serta prestasi yang pernah diraih.
Kuota yang disediakan melalui jalur ini pun cukup besar yakni 50
persen dari jumlah kursi yang tersedia di PTN tersebut.
Kedua, jalur tes tulis. Jalur
yang kedua ini dikenal dengan istilah Seleksi Bersama Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SBMPTN). Mereka yang tidak lolos melalui jalur
pertama, dapat kembali berusaha dengan mengikuti tes tulis yang
dilaksanakan secara serentak. Sayangnya, kuota yang disediakan
melalui jalur ini tidak lebih dari 30 persen dari jumlah kursi yang
tersedia. Padahal, jalur yang kedua ini dinilai lebih objektif dalam
menyeleksi calon mahasiswa dibandingkan dengan jalur yang pertama.
Ketiga, jalur mandiri.
Merupakan jalur penerimaan yang sepenuhnya diserahkan kepada
masing-masing PTN. Dalam hal ini setiap PTN diperkenankan untuk
melakukan seleksi melalui tes tulis sesuai dengan standar soal yang
dibuatnya. Oleh karena itu, tingkat kesulitan soal pun berbeda untuk
setiap PTN. Selain itu kuota yang disediakan pun tidak lebih dari 20
persen.
Dalam pandangan penulis,
proses seleksi yang paling rendah kualitasnya adalah jalur yang
pertama. Selain karena pelaksanaan UN yang hingga kini masih
diragukan tingkat kejujurannya, proses manipulasi nilai raport di
tingkat sekolah secara massal pun menjadi bagian dari “ikhtiar”
yang tak dapat dihindarkan. Di samping itu, banyaknya anak kepala
sekolah yang mendapatkan undangan melalui jalur yang pertama ini,
semakin menimbulkan kecurigaan masyarakat akan adanya nepotisme dalam
proses seleksi tersebut.
Adapun jalur yang dinilai
paling tinggi tingkat objektivitasnya adalah jalur yang kedua. Selain
hampir tidak ada celah untuk melakukan kecurangan, jalur tes tulis
ini telah terbukti selama bertahun-tahun menghasilkan lulusan yang
berkualitas sekaligus memiliki integritas. Tak heran apabila para
pemerhati dan praktisi pendidikan pun menyarankan pemerintah untuk
lebih mengutamakan jalur ini dibandingkan dua jalur lainnya.
Berdasarkan penjelasan di
atas, sudah saatnya pemerintah memberikan porsi yang lebih besar
untuk jalur SBMPTN dalam menyeleksi calon-calon mahasiswanya. Dengan
demikian, diharapkan akan terpilih putra-putra terbaik bangsa yang
benar-benar siap untuk dididik menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang
akan datang. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 13 Januari 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar