Bencana alam yang terjadi di
berbagai wilayah nusantara akhir-akhir ini hendaknya menjadi
perhatian kita sebagai pendidik. Banyaknya warga yang menjadi korban
saat bencana tersebut terjadi, sejatinya disebabkan oleh
ketidaksiapan mereka dalam menghadapinya. Selain itu kelalaian mereka
dalam menjaga kelestarian lingkungan tak jarang menjadi pemicu
terjadinya bencana (alam). Banjir di ibu kota yang terjadi setiap
tahun pada dasarnya tidak serta merta diakibatkan oleh curah hujan
yang tinggi. Hal tersebut merupakan akibat dari kebiasaan warga
membuang sampai ke sungai serta akibat dari “hobi” para pengusaha
yang menjadikan daerah resapan air menjadi pemukiman maupun kawasan
industri.
Bencana alam pada dasarnya
tidak dapat dihindari oleh manusia. Yang bisa dilakukan adalah
mempersiapkan diri saat bencana tersebut terjadi. Oleh karena itu,
pendidikan mitigasi bencana sejak dini nampaknya menjadi suatu
keharusan. Selain diharapkan dapat mencegah terjadinya dampak yang
lebih besar, melalui cara ini jumlah korban jiwa dapat dikurangi jika
bencana tersebut benar-benar terjadi.
Pendidikan mitigasi bencana
sebenarnya telah dicetuskan pada tahun 2012 yang lalu melalui program
sekolah aman. Adapun yang dijadikan pedomannya adalah Peraturan
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun
2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah / Madrasah Aman dari Bencana.
Melalui pendidikan mitigasi bencana, sekolah diharapkan dapat
berperan aktif dalam penanggulangan setiap bencana yang terjadi.
Adapun dalam pelaksanaanya sekolah bisa mengembangkan konsep
pendidikan tersebut sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.
Bagi daerah yang dekat dengan
pegunungan seperti kabupaten Karo dan Kediri, persiapan menghadapi
bencana gunung meletus tentunya sangat relevan. Adapun bagi warga
yang tinggal didaerah rawan banjir seperti kabupaten Bandung dan
sebagian wilayah DKI Jakarta, persiapan penanggulangan banjir menjadi
materi yang sangat penting untuk disampaikan. Selain itu simulasi
penanggulangan bencana dengan melibatkan seluruh siswa pun perlu
dilakukan.
Selain melalui program
Sekolah Aman, pendidikan mitigasi bencana sejak dini dapat dilakukan
melalui penanaman pendidikan karakter dalam mata pelajaran Pendidikan
Lingkungan Hidup (PLH). Pelajaran PLH hendaknya tidak hanya mampu
memberikan pengetahuan kepada siswa tentang bagaimana cara menjaga
kelestarian lingkungan namun juga mampu menjadikan anak sebagai
pribadi yang selalu siap berada di garda terdepan dalam upaya
melestarikan lingkungannya.
Melalui pendidikan mitigasi
bencana seperti ini kita berharap terwujudnya masyarakat yang sadar
akan bencana sehingga berbagai dampak yang diakibatkan oleh bencana
dapat diminimalisir.(Dimuat di Harian Umum Republika, 31 Desember 2014)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar