Penyelenggaraan Ujian Nasional
(UN) secara online
kembali diwacanakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud). Jika tak ada alang merintang, UN online
ini akan dilaksanakan mulai tahun 2016 mendatang. Berbagai persiapan
pun tengah dilakukan oleh Kemendikbud untuk menyukseskan hajatan
tahunan yang selalu menyita perhatian media maupun masyarakat
tersebut. Semua itu dilakukan untuk memperbaiki berbagai kelemahan
pada UN yang dilaksanakan secara manual. Besarnya biaya yang
diperlukan untuk menggandakan soal serta pengamanannya merupakan
kelemahan paling utama yang paling dirasakan.
Terobosan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk meningkatkan layanan pendidikan ini patut kita
apresiasi. Bila perlu, pemerintah daerah pun hendaknya berpartisipasi
aktif membantu pelaksanaannya terutama dalam hal penyediaan
infrastruktur. Hal ini dikarenakan UN online
tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa adanya peran serta pemerintah
daerah. Saat ini tercatat baru 500 sekolah di seluruh Indonesia yang
benar-benar siap untuk menggelar UN secara online.
Jumlah tersebut tentunya masih jauh dibandingkan dengan jumlah
sekolah yang ada di setiap daerah.
Ada beberapa keuntungan jika
UN online
ini dapat benar-benar terlaksana. Pertama, ujian yang dilakukan
secara online
mampu menghemat anggaran hingga 50 persen. Dengan demikian, anggaran
yang tadinya diperuntukkan untuk biaya penggandaan dan pengamanan
soal, dapat dialokasikan untuk keperluan lain yang lebih penting
seperti pelaksanaan program peningkatan kompetensi maupun
kesejahteraan guru.
Kedua, ujian yang dilakukan
secara online
tentunya akan lebih
ramah dengan lingkungan karena tidak perlu menggunakan kertas. Selain
itu evaluasi pembelajaran seperti ini diharapkan mampu memberikan
motivasi bagi sekolah untuk mewujudkan sekolah tanpa kertas. Pesatnya
perkembangan teknologi informasi sangat mendukung sekolah untuk
mewujudkan hal tersebut.
Ketiga, ujian yang
dilaksanakan secara online
memungkinkan siswa dapat mengetahui nilai ujiannya sesaat setelah
mereka menyelesaikan seluruh soal. Meskipun demikian pemerintah pun
belum memutuskan apakah hasil ujian nasional online
tersebut dapat langsung dilihat atau tidak tergantung pada kebijakan
nanti di lapangan. Akan tetapi secara teknis hal tersebut sangat
mungkin dilakukan.
Selain berbagai kelebihan
yang disebutkan diatas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika
UN online
ini akan benar-benar diterapkan di seluruh Indonesia. Pertama,
kesiapan infrastruktur tentunya akan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan program. Realita di lapangan menunjukkan bahwa tidak
semua sekolah memiliki peralatan komputer dalam jumlah yang memadai.
Untuk mengantisipasi hal ini pemerintah pusat hendaknya mampu
berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal penyediaan
infrastruktur.
Kedua, akses internet yang
memadai merupakan syarat mutlak terlaksanaya ujian secara online.
Kita tentu tidak ingin siswa kehabisan waktu untuk mengerjakan soal
hanya karena lambatnya akses internet. Dalam hal ini Kemdikbud bisa
bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi untuk membuat
jaringan khusus bagi sekolah.
Ketiga, tingkat keamanan
server menjadi
salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan UN online
ini. Memastikan server pusat aman dari para peretas (hacker)
adalah tugas berat dari panitia penyelenggara. Hal ini dikarenakan di
dalam dunia maya tidak ada sistem yang mampu menjamin kemanan data
secara sempurna. Selalu ada celah bagi mereka yang selalu berusaha
untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Untuk itu
bekerja sama dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) sangat mungkin
dilakukan oleh Kemdikbud.
Dengan melakukan berbagai
langkah seperti yang penulis sebutkan di atas, diharapkan Ujian
Nasional secara online
tersebut dapat terlaksana dengan baik di lapangan. Dengan demikian,
stigma negatif tentang Ujian Nasional yang sudah terlanjur tertanam
dalam benak masyarakat kita pun secara perlahan dapat terhapus. (Dimuat di Harian Umum Republika, 14 Januari 2015)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar