Berbagai cara dilakukan
masyarakat untuk menjaga kelestarian bahasa ibunya, salah satunya
adalah dengan membentuk komunitas pengguna bahasa daerah di dunia
maya. Melalui grup-grup yang dibuat di media sosial tersebut, mereka
pun aktif berinteraksi satu sama lainnya mengggunakan bahasa ibunya.
Bahkan, acara tatap muka langsung (kopdar) yang dikemas dalam bentuk
makan bareng atau mancing bareng, sering kali diadakan untuk
mempererat tali silaturrahmi di antara mereka.
Itulah yang dilakukan oleh
salah seorang anggota Caraka Sundanologi, Zaki yang pada tahun 2010
lalu membuat sebuah grup di media sosial dan dinamai “Nyarios
Sunda- Ngamumule Basa Sunda” (NS-NBS). Dengan membuat grup
tersebut, Zaki pun berharap dapat (kembali) “membumikan” basa
Sunda yang kini mulai ditinggalkan. Tak disangka, komunitas yang
dibangun sejak empat tahun lalu tersebut mengundang animo cukup besar
dari masyarakat. Saat ini tercatat tak kurang dari 80.000 orang yang
terdaftar sebagai anggota. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang
berasal dari mancanegara.
Apa yang dilakukan oleh Zaki
dan kawan-kawannya tersebut pada dasarnya merupakan bentuk
keprihatinan terhadap kondisi masyarakat sunda itu sendiri. Masih
ditemukannya anak-anak yang tidak mengerti arti kata panangan
atau pangambung padahal ayah asli orang Garut dan ibu berasal
dari Cililin adalah salah satu contoh kurangnya kesadaran masyarakat
untuk melestarikan bahasa ibunya.
Akibatnya, anak pun sering
kali mengalami banyak hambatan dalam berkomunikasi saat terjun ke
masyarakat. Hal ini dikarenakan basa sunda bukan hanya sekedar bahasa
yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Lebih
dari itu basa sunda sangat berkaitan erat dengan budaya dan tata
krama dalam masyarakat sunda. Mahalnya
harga kata “punten” yang keluar dari mulut seorang siswa ketika
melewati guru-guru yang sedang duduk di lantai menunjukkan kurangnya
perhatian terutama dari orang tua tentang pentingnya mengajarkan tata
krama (sunda) pada anaknya.
Menyikapi
kondisi semacam ini, sudah saatnya kita bahu-membahu dalam menjaga
kelestarian basa sunda. Di saat sekolah dan orangtua (dianggap)
tidak lagi “mampu” menjaga warisan budaya yang sangat berharga
itu, media sosial pun menjadi sarana yang tepat untuk
melestarikannya. Hal ini dikarenakan, karakteristik dari komunikasi
di dunia maya yang bersifat terbuka. Kondisi ini memungkinkan siapa
saja dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga khazanah bangsa
tersebut tanpa terkendala ruang dan waktu.
Dengan
memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk membumikan (kembali)
basa sunda, diharapkan warisan budaya yang sangat berharga itu pun
tetap lestari. Dengan demikian, basa sunda sebagai salah satu
identitas urang sunda
pun tetap melekat pada diri mereka.(Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Desember 2014)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar