Mun
bade angkat ka sawah
Kedah
pamit ka pa haji
Mun
hoyong dipikanyaah
Kedah
emut kana jangji
Itulah sepenggal paragraph sisindiran yang penulis temukan di salah
satu komunitas di jejaring sosial beberapa waktu lalu. Sisindiran
tersebut ditulis dalam rangka menyikapi kebijakan pemerintah yang
menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga dianggap
menyulitkan rakyat kecil. Adapun si penulis merupakan anggota sebuah
komunitas di dunia maya yang sengaja dibentuk untuk mewadahi mereka
yang memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya sunda.
Kebijakan Presiden Jokowi untuk mengurangi subsidi BBM di masa awal
pemerintahannya memang mengundang reaksi keras dari banyak pihak.
Masyarakat menganggap hal tersebut sebagai sebuah bentuk pengingkaran
terhadap janji politik yang pernah disampaikannya pada masa kampanye
pilpres beberapa bulan lalu. Media sosial pun pada akhirnya dijadikan
tempat untuk mengekspresikan kekesalan masyarakat terhadap kebijakan
pemerintah yang tidak populer itu.
Sayangnya, reaksi tersebut disampaikan dengan cara-cara yang tidak
beradab. Cacian, makian, umpatan sampai dengan bahasa binatang
digunakan untuk menghakimi orang nomor wahid di negeri ini. Mereka
seakan lupa bahwa orang yang sedang dihinakan tersebut adalah
pemimpin yang mereka pilih sendiri untuk menakhodai bangsa yang besar
ini. Akibatnya, konflik vertikal maupun horizontal pun semakin tak
terhindarkan. Debat kusir antar pendukung pun senantiasa menghiasi
ruang-ruang di dunia maya. Sementara diluar sana demonstrasi
besar-besaran pun digelar dan mengakibatkan korban luka.
Apa yang penulis gambarkan diatas merupakan akibat dari
ketidakmampuan generasi (muda) saat ini dalam mengekspresikan ide
maupun pendapatnya dengan cara-cara yang elegan. Mereka seakan tidak
mengenal etika maupun adat istiadat saat menyampaikan pendapat
ataupun memberikan masukan kepada orang lain. Padahal basa Sunda
mengajarkan kita untuk
senantiasa memberikan teguran kepada orang lain dengan cara-cara yang
baik.
Adapun sisindiran
merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk
mengekspresikan suatu keadaan yang tengah dirasakan seseorang. Selain
itu sisindiran sebagai
salah satu karya sastra juga biasa dimanfaatkan sebagai “alat”
untuk ngageunggeureuhken
penguasa tanpa harus membuatnya naik pitam. Hal ini dikarenakan
sisindiran lebih
banyak berisi nasihat ataupun masukan dibandingkan ungkapan yang
cenderung mendiskreditkan.
Oleh karena itu, peran aktif guru
basa Sunda dalam
mengajarkan budaya asli sunda yang satu ini sangat diharapkan.
Selain diajarkan di dalam kelas, sisindiran
juga sebaiknya dipentaskan dalam berbagai pertunjukan seperti saat
acara kenaikan kelas. Hal tersebut perlu dilakukan guna lebih
memasyarakatkan sisindiran di kalangan siswa maupun orangtua. Selain
itu memajang hasil karya siswa di mading sekolah juga dapat dijadikan
bentuk apresiasi bagi siswa yang benar-benar aktif berkarya dalam
melestarikan budaya sunda.
Dengan menjadikan sisindiran
sebagai sarana untuk berekspresi, diharapkan masyarakat (khususnya
generasi muda) lebih bijak dalam menyampaikan kritik maupun
pendapatnya. Dengan demikian, konflik vertikal maupun horizonal yang
selama ini menghiasi kehidupan masyarakat pun dapat dihindarkan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar