Keputusan pemerintah untuk
menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu ternyata
membawa dampak cukup besar bagi keberlangsungan hidup sekolah-sekolah
swasta di tanah air. Efek domino dari naiknya harga BBM tersebut
dirasakan langsung oleh pengelola sekolah maupun para guru yang
tengah mengabdi. Meroketnya harga barang kebutuhan operasional
sekolah , membuat pengelola terpaksa merevisi kembali rencana
anggaran pengeluaran sekolah yang telah dibuat sebelumnya. Adapun
guru (honorer) harus bersiap untuk lebih mengencangkan ikat
pinggangnya.
Kenaikan harga BBM yang
terjadi di pertengahan tahun pelajaran seperti saat ini telah
menempatkan sekolah-sekolah swasta pada posisi yang sulit. Membuat
kebijakan menaikkan SPP secara tiba-tiba untuk menutupi biaya
operasional sekolah, hanya akan membuat orangtua siswa naik pitam.
Akan tetapi jika hal tersebut tidak dilakukan, sekolah harus rela
menanggung kerugian lebih besar akibat membengkaknya pengeluaran.
Di sisi lain kenaikan gaji
berkala yang baru diterima oleh para guru beberapa bulan lalu
menjadi tak ada artinya akibat tingginya kebutuhan hidup saat ini.
Penambahan nominal gaji yang diharapkan mampu meningkatkan
kesejahteraan guru pada akhirnya hanya berguna untuk menutupi inflasi
terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Akibatnya, prinsip-prinsip
GBHN alias Gajih Beak Hutang Nambahan pun harus kembali
dialami oleh para guru (non-PNS) yang mengabdi di sekolah-sekolah
swasta.
Menyikapi kondisi semacam
ini, sudah seharusnya pemerintah turun tangan membantu
sekolah-sekolah swasta yang kesulitan. Klaim pemerintah mengalihkan
subsidi BBM ke sektor-sektor lainnya seperti pendidikan pun sudah
saatnya dibuktikan di lapangan. Dalam hal ini meningkatkan dana
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara signifikan, merupakan
langkah yang dapat diambil. Dengan demikian beban sekolah swasta pun
sedikit dapat terkurangi.
Adapun untuk menjaga daya
beli para gurunya, pemerintah diharapkan dapat memberikan kemudahan
bagi para guru untuk memperoleh barang-barang yang dibutuhkan
terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Memberikan diskon
khusus bagi guru untuk membeli buku ataupun memfotocopy soal-soal
ujian akan sangat membantu para guru dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu memberikan harga khusus bagi guru untuk bepergian
menggunakan sarana transportasi umum juga dapat meringankan beban
mereka dalam menghadapi kondisi yang sulit ini.
Di samping meminta bantuan
kepada pemerintah, manajemen sekolah pun diharapkan aktif mencari
dana-dana dari sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Dalam hal
ini sekolah dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan
untuk kemudian memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility
(CSR) yang dimilikinya. Dana
tersebut kemudian dapat digunakan untuk menutupi defisit anggaran
yang dialami oleh sekolah.
Melalui
berbagai upaya di atas, diharapkan sekolah-sekolah swasta dapat
bertahan dalam keadaan sulit seperti ini. Partisipasi mereka dalam
mendidik tunas-tunas bangsa ini harus tetap kita dukung. Dengan
demikian, lahirnya generasi unggul seperti yang dicita-citakan pun
dapat benar-benar terwujud.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar