Perkembangan budaya menulis di
kalangan guru akhir-akhir ini memang menunjukkan tren yang cukup
menggembirakan. Hal tersebut dapat kita lihat dari munculnya
wajah-wajah baru yang menghiasi berbagai media cetak maupun online.
Hampir setiap hari, kita bisa “menikmati” ide-ide segar mereka
melalui kolom opini yang diperuntukkan khusus bagi guru. Fenomena ini
sejatinya tidak dapat dilepaskan dari peran media cetak maupun online
yang secara konsisten memberikan ruang bagi para guru untuk bersuara.
Bagi
kalangan guru sendiri, menulis artikel khususnya di media massa
nampaknya telah menjadi sebuah kebutuhan. Selain dijadikan salah satu
dasar dalam Penilaian Kinerja Guru (PKG) berdasarkan Permendiknas
Nomor 35 Tahun 2010, eksisnya guru di media massa menunjukkan bahwa
yang bersangkutan benar-benar memahami dunia pendidikan yang menjadi
bidang kerjanya. Di samping itu besarnya honor yang dapat diterima
untuk tiap tulisan yang berhasil dimuat, sangat membantu para guru
untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Meskipun demikian, jumlah
guru yang mau menuangkan ide-ide segarnya dalam bentuk tulisan
terutama di media massa masih jauh dari harapan. Dari total sekitar
3,1 juta lebih guru yang tersebar di seluruh Indonesia, tak lebih
dari lima persennya yang berani menulis di media massa maupun
mengarang sebuah buku. Padahal budaya menulis sangat penting bagi
seseorang yang berprofesi sebagai pendidik. Melalui tulisan, mereka
dapat berbagi pengalaman dengan guru lainnya dalam mendidik anak.
Dengan begitu mereka pun akan mampu memberikan inspirasi bagi
orang-orang seprofesinya.
Ada beberapa alasan yang
menyebabkan para guru kita enggan untuk memulai menulis (buku).
Pertama, masih rendahnya budaya membaca di kalangan guru secara
otomatis berpengaruh pula pada rendahnya motivasi mereka untuk
menulis. Dengan kata lain, kebiasaan membaca menjadi syarat mutlak
bagi siapa saja untuk mampu membuat tulisan. Sebagian dari guru masih
enggan memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai salah satu pusat
sumber belajar. Mereka lebih gemar membaca Koran maupun tabloid yang
berkaitan dengan hobi mereka seperti olahraga, otomotif dan
memancing.
Kedua, banyaknya aktivitas
yang dilakukan di sekolah tak jarang membuat guru “terjebak”
dalam kegiatan rutinitas. Akibatnya, guru pun tak lagi memiliki
energi yang cukup untuk menuangkan berbagai gagasan maupun
pengalamannya melalui tulisan. Sesampainya di rumah, kebanyakan dari
mereka lebih memilih untuk beristirahat maupun mengerjakan urusan
rumah tangga.
Ketiga, alasan lain guru
enggan menulis buku adalah keterbatasan kemampuan mereka dalam
merangkai kata. Kenyataan menunjukkan, banyak sekali guru-guru kita
yang mempunyai ide-ide cemerlang maupun pengalaman-pengalaman yang
sangat berharga untuk dibagi kandas begitu saja akibat ketidakmampuan
mereka untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Untuk mampu membuat sebuah
tulisan yang bermutu memang tidaklah mudah. Dibutuhkan kemauan yang
tinggi untuk senantiasa memperbanyak bacaan serta konsisten dalam
menulis. Menuangkan tulisan dalam blog pribadi sejatinya bisa menjadi
awal yang baik dalam melatih kemampuan menulis. Selain itu sering
mengunjungi kanal edukasi pada microblog
seperti kompasiana akan sangat membantu para guru dalam menemukan
ide-ide segar untuk kemudian dijadikan sebuah tulisan yang menarik.
Tak hanya itu, dengan mengikuti berbagai blog
competition seperti
yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation, secara tidak langsung
dapat mengasah kemampuan guru untuk menuangkan buah pikirannya ke
dalam sebuah tulisan.
Dengan membangkitkan (kembali)
budaya menulis di kalangan guru, diharapkan (jiwa) profesionalisme
mereka pun akan berkembang sehinga mampu memberikan spirit
bagi siswanya untuk menulis. Dengan demikian, budaya literasi di
kalangan guru yang dulu pernah terkikis pun, dapat kembali menghiasi
wajah dunia pendidikan kita.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar