Wacana yang dilemparkan oleh Kemendikbud tentang rencana
penghapusan kelas akselerasi, menarik untuk dicermati. Adapun alasan paling
mendasar dari kebijakan tersebut adalah bahwa kelas akselerasi dinilai hanya
mampu melahirkan siswa yang pandai dalam mata pelajaran tertentu namun tidak
untuk pelajaran lainnya. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan konsep
pembelajaran yang diusung oleh kurikulum 2013 dimana seluruh mapel saling
terkait satu sama lainnya. Selain itu orientasi pembelajaran pada kelas
akselerasi yang berorientasi pada aspek kognitif dianggap bertolakbelakang dengan tujuan
pembelajaran pada kurikulum baru yang lebih menekankan pembentukan karakter
(sikap).
Adapun untuk
memfasilitasi anak-anak dengan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi,
Kemendikbud pun mempunyai strategi lain. Untuk masa studi pada jenjang SD
hingga SMA tetap ditempuh dalam waktu enam dan tiga tahun. Namun bagi siswa tertentu pada
jenjang SMA diperbolehkan mengikuti perkuliahan untuk mata kuliah tertentu di
perguruan tinggi yang ditunjuk dengan syarat siswa tersebut telah menyelesaikan
mata pelajaran wajib selama dua tahun. Dengan
begitu pada tahun ketiga mereka pun dapat mengambil mata kuliah lanjutan dan
mendapatkan nilai resmi dari perguruan tinggi yang bersangkutan.
Dalam
pandangan penulis, kebijakan pemerintah untuk menghapus kelas akselerasi
merupakan keputusan yang tepat. Namun demikian memaksa anak-anak “super”
tersebut untuk hidup di “dua alam” bukanlah cara yang bijak dalam menyalurkan
potensi mereka. Untuk dapat memfasilitasi anak berkebutuhan khusus sesuai
amanat undang-undang, pemerintah hendaknya berupaya keras untuk melengkapi
sekolah-sekolah dengan sarana penunjang yang memadai, bukan dengan memisahkan
mereka dari teman sekelasnya.
Sebaliknya, anak-anak yang memiliki kelebihan
energi tersebut sebaiknya diarahkan untuk mengembangkan potensi sekaligus
“menularkan” semangat belajarnya kepada yang lainnya. Bahkan, jika memungkinkan
guru dapat menjadikan mereka sebagai tutor sebaya untuk rekan-rekannya. Dengan
demikian secara tidak langsung kita pun telah mendidik mereka agar menjadi
makhluk sosial yang sesungguhnya. Selain itu guru pun akan terbantu tugasnya
dalam melakukan transfer ilmu kepada para peserta didik.
Berdasarkan gambaran diatas, sudah
saatnya kita memperlakukan anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi tersebut
dengan cara-cara yang lebih “manusiawi”. Menempatkan mereka dalam sebuah
“aquarium” yang kemudian dijadikan tontonan oleh anak-anak lainnya bukanlah cara
yang tepat. Sebaliknya, sekolah
berkewajiban mengembangkan potensi mereka sekaligus menjadikan keberadaannya
bermanfaat bagi orang lain. Dengan begitu buah manis dari proses pendidikan tersebut dapat benar-benar dinikmati
oleh dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar