Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia 69 tahun silam
ternyata belum sepenuhnya mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dari
keterpurukan. Hal ini setidaknya tercermin dalam laporan terbaru yang dirilis
oleh The Learning Curve Pearson,
sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia yang menempatkan Indonesia pada posisi juru kunci. Dengan indeks - 1,84,
Indonesia bertengger di urutan ke – 40, paling rendah se- Asia Tenggara serta
berada di bawah Meksiko, Brazil dan Kolumbia. Hal ini tentu saja menjadi sebuah
ironi ditengah semakin meningkatnya anggaran pendidikan dari waktu ke waktu.
Buruknya
kualitas pendidikan di tanah air tersebut antara lain disebabkan oleh banyaknya
rintangan yang harus dihadapi oleh sebagian guru kita dalam menjalankan
tugasnya. Ketika pemerintah dan masyarakat menuntut mereka untuk mendidik
tunas-tunas bangsa dengan penuh dedikasi, disaat yang bersamaan mereka pun
harus berjuang keras untuk melepaskan diri dari rantai-rantai besar yang
“membelenggu” jiwa dan kreativitasnya. Tak heran jika output yang dihasilkan pun masih jauh dari standar yang ditetapkan.
Agar setiap pendidik dapat menjalankan
tugasnya dengan baik, ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi. Pertama,
merdeka dari rasa lapar. Masalah dapur keluarga guru nampaknya masih menjadi
persoalan utama yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan. Tuntutan dari
para guru (honorer) kepada pemerintah agar meningkatkan kesejahteraannya
seharusnya dipandang sebagai persoalan serius, bukan sebaliknya. Bagaimana
mungkin seorang guru dapat mencurahkan perhatian kepada peserta didiknya
sementara dia dan keluarganya dalam keadaan lapar.
Kedua,
merdeka dari tekanan atasan. Adanya kasus seorang guru yang melaporkan
terjadinya kecurangan dalam Ujian Nasional
(UN) namun kemudian mendapatkan intimidasi dari atasan maupun rekan sejawatnya
merupakan bukti bahwa “penjajahan” ternyata masih dirasakan oleh sebgaian guru
kita. Loyalitas terhadap lembaga yang sering kali diidentikkan dengan kepatuhan
kepada atasan seakan telah “membunuh” daya kritis pendidik para pendidik kita.
Padahal kritikan maupun masukan tersebut sangat berharga dalam upaya membangun
sebuah lembaga pendidikan yang berkualtas.
Ketiga,
merdeka dari tekanan orangtua. Saat anak didik memiliki prestasi akademik yang
jauh dari harapan maupun berperilaku buruk, tak jarang guru dijadikan kambing
hitam oleh orangtua. Adanya paradigma keliru yang memposisikan guru sebagai
satu-satunya pihak yang paling berperan dalam mendidik anak, sejatinya merupakan
bentuk intimidasi terhadap guru sekaligus mencerminkan sikap orangtua yang
hendak lepas tangan. Padahal pendidikan merupakan tugas yang harus dipikul oleh
orangtua dan guru. Tanpa ada kerjasama diantara keduanya, mustahil tujuan
pendidikan dapat tercapai.
Dengan
membebaskan para guru dari rantai-rantai yang membelenggunya, kita berharap
mereka dapat memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak didiknya. Dengan begitu mereka pun
akan mampu mencetak generasi emas yang diharapkan dapat mengangkat harkat dan
martabat bangsa ini dari keterpurukan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar