Maraknya aksi penghentian paksa mobil-mobil bak terbuka
maupun truk oleh segerombolan pelajar agar mereka diberikan tumpangan gratis
seharusnya menjadi perhatian orang tua maupun pihak sekolah. Perbuatan “brutal”
yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka maupun sang pengemudi tersebut
sudah saatnya kita hentikan. Akibat kebiasaan menyimpang tersebut, salah
seorang pelajar SMP di kabupaten Subang dimana penulis saat ini mengabdi,
terpaksa harus meregang nyawa akibat terlindas roda belakang truk saat yang
bersangkutan mencoba naik ke atas truk yang tengah berjalan.
Namun
demikian, kejadian tersebut ternyata tidak membuat pelajar lainnya jera. Hampir
setiap hari penulis masih menemukan sekolompok pelajar yang “rela”
mempertaruhkan nyawanya untuk menghentikan truk-truk yang tengah melaju kencang
dengan sengaja berdiri ditengah jalan. Dalam kondisi seperti ini, para sopir
truk pun biasanya tidak punya pilihan lain selain mengalah dengan menepi ke pinggir
jalan. Akibatnya, perjalanan mereka pun menjadi terganggu. Bahkan, tak jarang
mereka harus memutar arah akibat paksaan dari sekelompok pelajar yang tengah
mabuk.
Menyikapi
maraknya aksi “pembajakan” tersebut, aparat kepolisian diharapkan dapat bertindak
tegas terhadap para pelaku. Razia yang dilakukan oleh aparat hendaknya tidak
hanya sebatas pada pemeriksaan surat-suart kendaraan saja, namun juga
orang-orang yang menumpang dalam kendaraan tersebut. Secara aturan, mobil-mobil
bak terbuka tentunya hanya diperbolehkan untuk mengangkut barang dan bukan
untuk membawa manusia, terlebih mereka yang menumpang dengan cara memaksa.
Adapun
sekolah sejatinya mampu menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dengan
benar-benar melakukan kampanye berkendara yang baik dan benar di jalan.
Berdasarkan pengamatan penulis, kampanye keselamatan berlalu lintas yang
dilakukan di sekolah-sekolah selama ini hanya sebatas topeng bagi para produsen
motor untuk mempromosikan produk terbaru mereka. Akibatnya, sepulang sekolah
anak pun uring-uringan kepada orang tuanya karena ingin dibelikan motor baru.
Selain
aparat dan pihak sekolah, yang tak kalah pentingnya adalah peran orang tua di
rumah dalam mengawasi seluruh kegiatan anaknya. Dalam hal ini orang tua
diharapkan senantiasa menjaga komunikasi dengan wali kelas untuk mengetahui apa
saja yang dilakukan anaknya selama di sekolah dan sewaktu pulang dari sekolah. Selain itu orang tua hendaknya mampu
memberikan contoh yang baik kepada anaknya dalam hal berkendara. Banyaknya
orang tua yang membiarkan anaknya mengendarai sepeda motor sekalipun belum
memiliki SIM merupakan tindakan yang tidak bijak.
Dengan
adanya kerjasama diantara ketiga pihak tersebut kita berharap kedepan tidak ada
lagi tunas-tunas bangsa yang harus mati konyol akibat dari perbuatan nekat
mereka. Selain itu dengan adanya ketegasan dari pihak aparat, para pengguna
jalan pun dapat merasakan kenyamanan selama perjalanan.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar