Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak terjadi karena
sikap orang tua yang tidak bisa menerima anak apa adanya. Akibatnya anak pun
mencari tempat lain untuk menyampaikan isi hatinya namun justru malah
mencelakakannya. Itulah salah satu isi pidato Gubernur Jawa Barat, Ahmad
Heryawan dalam acara hari ulang tahun Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia
(IGTKI) Jawa Barat yang ke-64 beberapa waktu lalu.
Menurutnya
pria yang akrab disapa Kang Aher ini, hak anak yang paling pokok adalah hak
untuk diterima oleh orang tua, sekolah dan masyarakat. Penerimaan orang tua
terhadap kelebihan dan kekurangan anak merupakan hal yang paling utama mengingat
orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak. Selain itu keluarga
merupakan tempat pertama dan paling utama bagi anak untuk menjalani proses
pendidikan.
Senada
dengan Kang Aher, Irene Sugihrehardja salah seorang guru yang mengadakan
penelitian terhadap seratus orang anak perihal hubungan mereka dengan orang tua
menyampaikan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa kehadiran orang tua
sangatlah dibutuhkan oleh anak dalam rangka proses pendidikan menuju
terciptanya manusia seutuhnya. Artinya, keberhasilan proses pendidikan yang
dijalani oleh anak sangat ditentukan sejauh mana orang tua memberikan perhatian
kepada mereka.
Adapun sekolah yang seharusnya
menjadi rumah kedua bagi anak, tak jarang justru menjadi “neraka kedua” bagi
mereka. Disaat orang tua di rumah berkeluh kesah tentang kekurangan yang dimiliki oleh anaknya, guru
di sekolah justru melengkapi penderitaan mereka dengan berbagai kata-kata
maupun ungkapan-ungkapan yang menyakitkan bagi anak. Alhasil, anak pun mencari
pelarian di luar yang pada akhirnya tak jarang justru menjerumuskannya ke dalam
lembah hitam.
Melihat kondisi semacam ini, alangkah
bijaknya apabila orang tua mau menerima kondisi anaknya apa adanya. Adapun
kekurangan yang dimiliki oleh anak sejatinya bukanlah aib yang harus
ditutp-tutupi, melainkan kesempatan sekaligus ladang amal bagi orang tua dalam
menunaikan amanah dari Allah Swt.
Di samping itu sekolah sebagai tempat
dimana anak menimba ilmu hendaknya tidak menutup mata dalam menyikapi kondisi
anak yang sebenarnya. Memahami kondisi peserta didik merupakan hal yang pertama
harus dilakukan oleh sekolah sebelum memasukkan “sesuatu” ke dalam kepala
mereka. Sebagai orang tua kedua, setiap pendidik dituntut untuk memahami
karakter peserta didiknya beserta permasalahan yang dialaminya. Hal tersebut
perlu dilakukan agar anak merasa dihargai keberadaannya. Masih adanya pendidik
yang bersikap apatis terhadap permasalahan peserta didiknya patut kita
sayangkan.
Dengan adanya perhatian yang
diberikan oleh guru dan orang tua, kita berharap setiap anak benar-benar
mendapatkan haknya. Dengan begitu proses pendidikan yang bertujuan untuk
menciptakan manusia seutuhnya pun benar-benar dapat terwujud.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar