Program Pendidikan Menengah Universal (PMU) secara resmi
diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh pada hari selasa
(25/06/2013) di Jakarta. Dengan anggaran sebesar 8 triliun rupiah untuk satu
tahun ajaran, program ini bertujuan untuk meringankan beban orang tua terutama
dalam membayar SPP. Melalui PMU, setiap siswa SMA / SMK akan mendapatkan
bantuan sebesar Rp 1 juta pertahun yang disalurkan melalui Bantuan Operasional
Sekolah (BOS). Adapun yang menjadi tujuan jangka panjang program ini adalah untuk
meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menegah nasional menjadi sebesar 97 persen pada tahun 2020 dari angka APK saat ini yang hanya 78,8
persen.
Seperti
diketahui, sampai dengan tahun 2035 mendatang kita akan memperoleh angkatan
produktif yang jumlahnya cukup besar dan
seringkali disebut “bonus demografi”. Pertanyannya, apakah bonus demografi
tersebut merupakan anugerah ataukah bencana ? Bonus demografi tentunya akan menjadi
anugerah manakala angkatan muda tersebut dibekali dengan pendidikan yang
memadai. Untuk itu, sejak tahun 2010 pemerintah pun menyiapkan program dengan
membangun 416 sekolah baru dan juga 34.000 ruang kelas baru. Dan pada tahun
2014 mendatang, diharapkan sebanyak 500 sekolah baru dan 10.000 ruang kelas
baru dapat terbangun setiap tahunnya untuk mencapai target peningkatan APK
sebesar 3 persen pertahun.
Meskipun
demikian, program yang dicanangkan pemerintah ini bukannya tanpa hambatan.
Jumlah ketersediaan guru khususnya guru SMK yang tidak sebanding dengan jumlah
kebutuhan guru di lapangan tentunya menjadi persoalan tersendiri dalam rangka
menyukseskan program tersebut. Seperti diketahui, saat ini total kebutuhan guru
pertahun adalah sebesar 39.000. Dari angka tersebut yang lebih dibutuhkan
adalah guru produktif untuk SMK. Kekurangan jumlah guru ini antara lain
disebabkan oleh tidak semua LPTK menghasilkan guru-guru produktif. Akhirnya,
merekrut para lulusan politeknik pun menjadi jalan keluar untuk menutupi
kekurangan jumlah guru untuk SMK.
Adapun untuk
konteks Jawa Barat, APK nasional yang saat ini mencapai 78,8 persen tentu saja
akan berbeda angkanya ketika diturunkan menjadi APK Provinsi. Saat ini jumlah
penduduk Jawa Barat yang berusia antara 16 – 18 tahun adalah sebanyak 2.155.200
jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 554.662 orang memilih mendaftar ke SMA , 801.985 memilih SMK dan sebanyak 1226 orang
masuk ke sekolah menengah luar biasa. Jika dijumlahkan ternyata ada 797 ribu
atau lebih dari 37 persen angkatan muda Jawa Barat yang tidak dapat mengenyam
pendidikan menengah. Selain itu jumlah guru yang ada di Jawa Barat sebanyak 12.304
untuk SMA dan 21.871 guru untuk SMK nampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi
Pemprov Jabar untuk bekerja lebih keras.
Untuk
menghadapi tantangan tersebut, dibutuhkan partisipasi dan kerjasama antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah serta masyarakat untuk memperluas akses pendidikan bagi
angkatan produktif dimasa yang akan datang. Ketersediaan guru, ruang kelas
serta sarana pendidikan yang memadai merupakan syarat mutlak. Dengan demikian,
bonus demografi yang akan kita peroleh diharapkan menjadi anugerah bagi bangsa
Indonesia dan bukannya menjadi bencana nasional.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar