Sebagaimana halnya makanan cepat saji yang mengakibatkan
dampak kurang baik bagi kesehatan jika terlalu sering dikonsumsi, Kurikulum
“cepat saji” pun akan membawa dampak buruk bagi dunia pendidikan jika tetap
dipaksakan. Baru sepekan dijalankan, kurikulum yang digadang-gadang mampu dijadikan
senjata andalan untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan
tersebut, malah berantakan dan membuat
sang empu frustasi.
Berbagai
persoalan serius muncul di lapangan tatkala sekolah-sekolah mulai “mencicipi”
hidangan cepat saji ini. Adapun belum diterimanya buku ajar oleh siswa
merupakan masalah paling krusial yang dihadapi oleh sekolah saat ini. Padahal
sejak jauh-jauh hari, pemerintah telah menjanjikan bahwa buku tersebut akan
diterima oleh siswa pada saat pembelajaran dimulai. Namun ternyata janji
tersebut jauh dari kenyataan. Untuk jenjang SMA/SMK saja, buku yang tercetak
baru sekitar 60%, sedangkan yang terdistribusikan tidak lebih dari 20 % nya.
Persoalan
lain yang juga tak kalah pentingnya adalah tidak meratanya pelaksanaan diklat
implementasi kurikulum 2013 di seluruh sekolah. Kenyataan menunjukkan, masih
banyak sekolah-sekolah yang guru-gurunya belum megikuti diklat. Akibatnya,
mereka pun kebingungan dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi proses
pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum baru tersebut. Padahal
pengetahuan tentang ketiga hal ini sangat pentig bagi mereka dalam menjalankan
tugasnya.
Selain kedua
hal diatas, persoalan lain yang dihadapi oleh sekolah adalah kesiapan sarana
pembelajaran yang dibutuhkan. Masih banyaknya sekolah yang belum memiliki
sarana pembelajaran yang memadai membuat kurikulum baru tersebut sangat sulit
untuk diimplementasikan.
Akibat dari
kekisruhan ini, berbagai kalangan mulai mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam upaya memperbaiki
kualitas pendidikan di tanah air. Bahkan, beberapa daerah secara tegas menolak implementasi kurikulum baru tersebut karena dinilai
sebagai suatu bentuk pemaksaan. Tindakan tersebut memang cukup beralasan mengingat
kondisi sekolah mereka yang belum siap untuk menjalankan kurikulum baru
tersebut.
Untuk
mencegah “kerusakan” yang lebih parah, pemerintah sebaiknya segera melakukan
evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum baru tersebut. Evaluasi ini hendaknya dilakukan
secara objektif dengan memantau langsung kondisi di lapangan dan bukan
didasarkan pada klaim sepihak (seperti yang sudah-sudah). Menyalahkan
sekolah-sekolah karenan terlambat memesan buku atau tidak aktif
mengikutsertakan guru-gurunya dalam pelatihan bukanlah sikap yang bijak.
Kondisi semacam ini sejatinya dapat diantisipasi oleh pemerintah jika mereka
benar-benar siap dalam melaksanakan program tersebut.
Dengan
meninjau kembali kebijakan untuk mengimplementasikan kurikulum baru di seluruh
sekolah, kita berharap pemerintah dapat lebih mempersiapkan program-programnya
secara lebih matang. Dengan begitu tidak ada lagi guru maupun siswa yang
menjadi korban akibat “mengonsumsi” hidangan cepat saji ini.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar