Dalam
hitungan bulan, siswa yang saat ini tengah duduk di bangku SMU kelas
XII akan segera memasuki dunia barunya yaitu perguruan tinggi. Sebagian
besar sekolah pun dinyatakan telah selesai mengisi data-data pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) yang dibuka
sejak tanggal 6 Januari yang lalu. Hal tersebut dilakukan sebagai
syarat untuk mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN). Berkas-berkas
untuk persyaratan pun telah disiapkan, mulai dari akta kelahiran, nilai
raport selama lima semester sampai dengan kartu Nomor Induk Siswa
Nasional (NISN).
Persaingan
untuk mendapatkan tiket masuk ke PTN untuk tahun ini memang akan lebih
sengit dari tahun sebelumnya. Diperkirakan tidak kurang dari 1,2 juta
siswa SMU yang akan bersaing memperebutkan 150.000 kursi. Pertanyaannya,
layakkah mereka yang tidak berhasil mendapatkan tiket untuk masuk PTN
tersebut dikatakan tidak beruntung hanya karena pada akhirnya mereka
harus kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ? Paradigma yang memandang
bahwa PTN (selalu) lebih baik dari PTS nampaknya perlu kita renungkan
kembali.
Dalam
pandangan penulis, bermutu atau tidaknya sebuah perguruan tinggi tidak
ditentukan oleh status yang melekat pada perguruan tinggi tersebut.
Lebih jauh lagi, kesuksesan seseorang tidak (hanya) ditentukan oleh
tempat dimana mereka mengenyam bangku kuliah. Realitas menunjukkan,
banyak PTN yang pada akhirnya hanya “memproduksi” pengangguran terdidik.
Disisi lain tidak sedikit berbagai prestasi akademik maupun non
akademik justru ditorehkan oleh para mahasiswa yang berasal dari PTS.
Bahkan dalam banyak kasus, jebolan PTS lebih mampu bersaing untuk
mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmunya
dibandingkan dengan lulusan PTN sekalipun hanya berbekal ijzah Diploma.
Jika
kita telusuri lebih jauh, mutu sebuah perguruan tinggi lebih banyak
ditentukan oleh kemampuan pengambil kebijakan di perguruan tinggi
tersebut dalam mengelola lembaganya. Mengikuti setiap perkembangan yang
terjadi di masyarakat merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu
berbagai inovasi pun senantiasa dilakukan untuk menjawab setiap
tantangan yang dihadapi. Pada akhirnya, mereka yang tetap eksist adalah mereka yang berusaha untuk senantiasa ngigelan jaman.
Mengembangkan kurikulum, menjalin kerjasama dengan lembaga lain sampai dengan melakukan upgrading
secara berkala untuk para pengajarnya merupakan karakteristik sebuah
perguruan tinggi yang memiliki visi jauh kedepan. Perguruan tinggi
semacam ini sama sekali tidak terpengaruh oleh status yang melekat
padanya. Bagi mereka peningkatan mutu menjadi kunci untuk mampu bertahan
daripada sekedar mengharapkan “proteksi” dari pemerintah.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, tidak tepat rasanya jika kita mengatakan siswa
yang tidak berhasil mendapatkan tiket masuk ke PTN adalah siswa yang
gagal. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh tempat dimana mereka
belajar namun sejauh mana usaha mereka untuk mencapai kesusksesan
tersebut.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar