Budaya menulis di kalangan guru akhir-akhir ini memang
menunjukkan trend yang sangat positif. Hal tersebut dapat kita lihat dari
munculnya wajah-wajah baru yang menghiasi berbagai media cetak maupun online.
Hampir setiap hari, kita bisa “menikmati” ide-ide segar mereka melalui kolom
opini yang diperuntukkan khusus bagi guru. Fenomena ini sejatinya tidak dapat
dilepaskan dari peran media cetak maupun online yang ada dalam menyediakan
wadah bagi para guru untuk menuangkan buah pikirannya melalui tulisan.
Meskipun demikian, jumlah guru yang
mau menuangkan ide-ide segarnya dalam bentuk buku masih jauh dari harapan. Dari
total sekitar 3 juta lebih guru yang tersebar di seluruh Indonesia, tak lebih
dari lima persennya yang berani menulis buku. Padahal budaya menulis sangat
penting bagi seseorang yang berprofesi sebagai pendidik.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan
para guru kita enggan untuk memulai menulis (buku). Pertama, masih rendahnya
budaya membaca di kalangan guru secara otomatis berpengaruh pula pada rendahnya
motivasi mereka untuk menulis. Dengan kata lain, kebiasaan membaca menjadi syarat
mutlak bagi siapa saja untuk mampu membuat tulisan.
Kedua, banyaknya aktivitas yang
dilakukan di sekolah tak jarang membuat guru “terjebak” dalam kegiatan
rutinitas. Akibatnya, guru pun tak lagi memiliki energi yang cukup untuk
menuangkan berbagai gagasan maupun pengalamannya melalui tulisan. Sesampainya
di rumah, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk beristirahat maupun
mengerjakan urusan rumah tangga.
Ketiga, alasan lain guru enggan
menulis buku adalah keterbatasan kemampuan mereka dalam merangkai kata. Kenyataan
menunjukkan, banyak sekali guru-guru kita yang mempunyai ide-ide cemerlang
maupun pengalaman-pengalaman yang sangat berharga untuk dibagi kandas begitu
saja akibat ketidakmampuan mereka untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Untuk menulis sebuah buku sebenarnya
tidak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu untuk memperbanyak
bacaan dan konsisten dalam menulis. Menuangkan tulisan dalam blog pribadi
sejatinya bisa menjadi awal yang baik dalam melatih kemampuan menulis. Penulis
sendiri baru saja menyelesaikan sebuah buku yang berjudul “Memaknai Profesi
Pendidik”. Sekalipun buku tersebut masih jauh dari sempurna, namun bagi penulis
pribadi buku tersebut mampu menjadi wadah untuk menuangkan buah pikiran maupun
berbagai pengalaman penulis selama berprofesi sebagai pendidik. Selain itu bergabung dengan komunitas menulis
seperti Gerakan Guru Menulis Buku (G2MB) dapat menambah wawasan kita tentang
bagaimana cara menyusun sebuah buku yang baik.
Dengan semakin banyaknya guru yang
menulis buku, diharapkan budaya menulis di kalngan siswa pun akan semakin
meningkat. Selain itu dengan semakin banyaknya buku yang ditulis oleh para
guru, budaya literasi di kalangan guru yang dulu pernah terkikis, akan kembali
mewarnai dunia pendidikan kita. Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei !
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar