Opini berjudul “Geopolitik Guru” yang dimuat di harian umum Pikiran Rakyat (23/04/2014) seakan mengajak
kita untuk merenung tentang sikap politik yang akan diambil dalam menyambut
suksesi kepemimpinan di tingkat nasional. Geliat partai politik maupun para
bakal calon presiden yang mulai gencar mencari dukungan (organisasi) guru sudah
selayaknya kita sikapi dengan bijak. Berbagai cara mereka gunakan untuk
mendapatkan dukungan demi meraih kursi RI 1. Mulai dari mengobral janji melalui
kampanye di televisi sampai dengan mengirimkan “surat pribadi” ke
sekolah-sekolah mereka lakukan dengan
harapan para guru “sudi” menaruh harapan pada mereka.
Hal tersebut
tentunya bukan tanpa alasan mengingat potensi yang dimiliki oleh (organisasi)
guru. Para kandidat sadar betul bahwa guru yang berjumlah tiga juta jiwa
tersebut merupakan salah satu komponen yang turut menentukan terpilihnya
seseorang menjadi pemimpin nasional. Hal ini dikarenakan guru memiliki peran
yang cukup strategis di masyarakat maupun dihadapan peserta didiknya terutama
yang sudah memiliki hak pilih. Guru (masih) dijadikan “kiblat” oleh (sebagian) masyarakat
maupun peserta didik dalam menggunakan hak politiknya.
Adapun organisasi
guru sejatinya merupakan tempat dimana seluruh kekuatan yang dimiliki oleh guru
terpusat. Banyaknya anggota dan
luasnya jaringan yang dimiliki membuat organisasi ini terlihat “seksi” dimata
para kandidat. Tak heran jika setiap calon yang akan bersaing berusaha
mati-matian untuk memperoleh dukungan dari organisasi ini.
Terlibatnya
(organisasi) guru sebagai tim sukses calon kepala daerah sebenarnya
bukan fenomena baru. Sejak pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung,
tidak sedikit guru maupun organisasi guru yang memiliki struktur mapan
“berpartisipasi” dalam hajatan lima tahunan tersebut. Meskipun tidak
menunjukkan dukungan secara eksplisit kepada salah satu kandidat dan tidak
berafiliasi pada parpol tertentu, peran mereka sangat terasa dalam mengantarkan
seseorang menjadi kepala daerah. Hal ini dapat kita lihat dari pengalaman
pilkada di beberapa kabupaten / kota ataupun provinsi yang ada di Indonesia.
Kuatnya “rayuan” dari para kandidat yang akan bersaing
ditambah lagi dengan “kebutuhan” yang dimiliki (organisasi) guru membuat mereka
“tak kuasa” menolak ajakan sang kandidat. Pada akhirnya hubungan timbal
balik ini pun berubah menjadi “simbosis mutualisme” diantara kedua belah
pihak.
Menyikapi fenomena tersebut, sudah saatnya (organisasi)
guru menunjukkan partisipasi politiknya dengan cara-cara yang (lebih)
bermartabat. Memberikan pendidikan politik yang mencerdaskan kepada masyarakat
tentunya jauh lebik baik dari sekedar menceburkan diri dalam politik praktis.
Masyarakat yang saat ini tengah galau dalam menentukan calon pemimpinnya jauh
lebih membutuhkan bimbingan dan arahan yang benar dari sosok seorang guru.
Dengan begitu para pendidik kita pun
tidak hanya mampu menjadi guru di sekolah namun juga guru bagi bangsa Indonesia.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar