Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Andri Sobari
alias Emon kepada puluhan anak di kabupaten Sukabumi, Jawa Barat hendaknya
menjadi perhatian kita bersama. Pelaku yang masih tergolong usia remaja
tersebut terpaksa harus mendekam di tahanan untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Akibatnya, Emon pun terancam kehilangan masa depannya karena
harus menghabiskan masa mudanya dibalik jeruji besi.
Jika kita
telusuri lebih jauh, munculnya kasus yang menimpa Emon sejatinya tidak dapat
dilepaskan dari peran guru yang bersangkutan saat dia masih duduk di bangku
sekolah. Kasus semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika guru (terutama
wali kelas) benar-benar memahami karakter peserta didiknya. Berbagai gejala
yang menjurus pada perbuatan menyimpang seharusnya dapat dideteksi sedini
mungkin untuk kemudian dilakukan pencegahan.
Sayangnya
masih banyak dari para pendidik kita yang terkesan “menjaga jarak” dengan
peserta didiknya. Hubungan antara guru dan murid seakan terhalang “tembok tebal”
yang bernama kurikulum. Kebanyakan dari kita masih menganggap materi yang harus
disampaikan jauh lebih penting daripada memahami kondisi peserta didik itu
sendiri. Padahal apa yang tengah dialami oleh mereka tentunya akan sangat
berpengaruh terhadap kesuksesan belajarnya maupun hubungan sosial dengan
sesamanya.
Untuk
mencegah terulangnya kasus-kasus serupa, setiap pendidik hendaknya berusaha memahami karakter setiap anak
didiknya dengan baik. Selalu menjaga komunikasi dengan peserta didik maupun
orang tuanya merupakan cara terbaik untuk memahami karakter anak yang
sesungguhnya. Hal ini dikarenakan, apa yang terlihat di permukaan belum tentu
mencerminkan karakter yang sebenarnya. Tidak sedikit anak yang sehari-harinya
berperilaku baik ternyata menjadi pelaku kekerasan fisik maupun seksual.
Adapun bagi anak yang tengah berada
dalam kondisi tertentu hendaknya mendapatkan perhatian khusus dibandingkan
dengan anak-anak lainnya tanpa bermaksud untuk membeda-bedakan. Hal ini perlu
dilakukan guna mengetahui apa sebenarnya yang sedang dibutuhkan oleh anak.
Memberikan perhatian khusus atau bahkan treatment
bagi anak-anak tertentu akan sangat membantu mereka dalam memecahkan persoalan
yang tengah mereka hadapi. Anak yang kecanduan merokok ataupun masturbasi
tentunya jauh lebih membutuhkan therapy daripada sekedar sanksi. Memberikan
sanksi tanpa memberi solusi hanya akan membuat mereka semakin terperosok ke
jurang yang lebih dalam.
Berdasarkan
penjelasan diatas, memahami karakter peserta didik dengan baik nampaknya
menjadi keharusan bagi setiap pendidik. Jika tidak, tujuan pembelajaran yang
akan dicapai sampai kapan pun tidak akan pernah terlaksana dengan baik dan
generasi emas seperti yang dicita-citakan pun tidak akan pernah terwujud.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar