Hasil Ujian Nasional untuk tingkat SMA dan sederajat baru
saja diumumkan. Hasilnya, dari keseluruhan siswa SMA yang berjumlah 1.632.757,
sebanyak 1.624.946 siswa atau 99,52 persennya dinyatakan lulus. Sementara siswa
yang dinyatakan tidak lulus sebanyak
7.811 siswa. Adapun tingkat kelulusan untuk siswa SMK mencapai 99,94
persen dengan jumlah siswa yang dinyatakan tidak lulus sebanyak 1.159 siswa.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mendikbud saat melakukan konferensi pers
tentang kelulusan UN yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.
Pengumuman ini pun disambut gembira oleh siswa maupun
orang tua. Tak ketinggalan, guru yang selama ini telah berjuang mempersiapkan
anak didiknya pun kini bisa bernafas lega melihat anak didiknya mampu melewati ujian tersebut. Bahkan, untuk
meluapkan kegembiraannya, aksi corat-coret seragam siswa dan konvoi kendaraan
bermotor di jalanan pun tak terhindarkan meski sebelumnya sudah diperingatkan
oleh pihak sekolah.
Di tengah
euforia tersebut, ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran penulis,
yaitu tingkat kejujuran UN. Sampai detik ini penulis belum pernah mendapatkan
data statistik yang menggambarkan tingkat kejujuran UN dari tahun ke tahun. Padahal
untuk melakukan penelitian semacam ini tidaklah sulit bagi sebuah lembaga
negara sekelas Kemendikbud. Didukung dengan dana yang mencukupi serta SDM yang
mumpuni, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengatakan bahwa hal tersebut sangat sulit
untuk dilakukan, terkecuali jika pemerintah merasa bahwa hal semacam ini
tidaklah diperlukan.
Bagi sebuah bangsa yang mengaku
beradab, nilai-nilai kejujuran tentunya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kejujuran sejatinya menjadi pilar utama untuk mewujudkan
masyarakat yang adil dan makmur. Tanpa dilandasi nilai-nilai kejujuran, hanya
kesengsaraanlah yang akan didapat seperti halnya yang dialami oleh bangsa kita
saat ini.
Adapun
sekolah sejatinya merupakan tempat dimana nilai-nilai tersebut (seharusnya) diajarkan
dan diamalkan. Terbongkarnya kasus-kasus kebocoran soal maupun kunci jawaban UN
di beberapa daerah strategis seperti Bandung, Surabaya dan Padang tentunya tidak
bisa dianggap persoalan sepele, apalagi dinilai hanya bersifat kasuistis. Sebaliknya,
persoalan “rutin” tersebut hendaknya dipandang sebagai fenomena gunung es yang
menyimpan potensi masalah yang jauh lebih besar.
Berdasarkan
gambaran diatas, dalam mengumumkan hasil Ujian Nasional yang akan datang (jika
UN masih ada), pemerintah dituntut untuk tidak hanya menyampaikan tingkat
kelulusan siswanya, namun juga mengumumkan tingkat kejujuran pelaksanaan UN
tersebut. Dengan begitu kita dapat menilai apakah nilai UN yang diumumkan
tersebut diperoleh siswa dengan cara-cara yang “sah” ataukah sebaliknya.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar