Survei yang dikeluarkan oleh Programmme for International
Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 lalu menempatkan Indonesia pada
peringkat paling bawah dari 65 negara dalam hal kemampuan membaca, matematika
dan sains. Hal ini tentunya menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang selalu
mengklaim bahwa mutu pendidikan di Indonesia sudah lebih baik dari masa-masa
sebelumnya.
Adapun
berbagai upaya untuk merubah wajah dunia pendidikan kita sebenarnya telah
ditempuh oleh pemerintah selama satu dasawarsa ini. Mulai dari memberlakukan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004 lalu yang kemudian diganti
dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006, sampai
dengan mempertahankan keberadaan Ujian Nasional (UN) yang hingga hari ini masih
mengundang polemik. Tak hanya itu, pemerintah pun mencoba peruntungannya dengan
mulai memberlakukan kurikulum 2013 yang bagi sebagaian kalangan semakin tidak
jelas arah dan tujuannya.
Jika kita
mau menengok ke belakang sejenak saja, para karuhun
kita ternyata memiliki filosofi pendidikan yang luhur. Folosofi pendidikan
tersebut telah berhasil membawa kemakmuran sejak zaman Salaka Nagara hingga ke Pakuan Pajajaran selama seribu tahun.
Bahkan menurut Stephen Openheimer dalam bukunya yang berjudul Sundaland, Tatar
Sunda merupakan salah satu pusat peradaban di dunia. Adapun filosofi pendidikan
yang dimaksud adalah cageur, bageur,
bener, pinter tur singer.
Cageur mengandung arti bahwa anak harus sehat secara jasmani dan
rohani. Dalm hal ini pendidikan harus mampu membentuk insan yang sehat secara
lahir maupun batin. Adapun bageur
mengandung arti bahwa pendidikan diarahkan untuk membentuk karakter peserta
didik yang berakhlak mulia. Para karuhun
kita menyadari betul pentingnya penanaman nilai-nilai akhlak sejak dini. Bagi
mereka, akhlak peserta didik merupakan pondasi awal yang harus dibangun sebelum
anak diberikan ilmu pengetahuan maupun keterampilan.
Selanjutnya
kata bener mengajarkan anak untuk
senantiasa mengerjakan segala sesuatu dengan benar dalam menjalankan
tugasnya dan tidak asal-asalan. Selain
itu kata bener mengajarkan anak untuk
senantiasa berbuat amanah dan tidak menyimpang. Setelah ketiga nilai dasar
tersebut tertanam, barulah dilakukan transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada
peserta didiknya. Kata pinter
mengandung makna bahwa anak haruslah memiliki pengetahuan yang memadai sebagai
bekal dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti. Artinya selain memiliki
kecerdasan akademik, anak juga dituntut untuk memiliki pemahaman agama yang
memadai.
Adapun singer sejatinya mengajarkan anak untuk
senantiasa mawas diri terhadap lingkungan sekitar dan senantiasa mendahulukan
kepentingan orang lain. Istilah bisa
mihapekeun diri sorangan merupakan bagian penting dari nilai yang terakhir
ini.
Berdasarkan
penjelasan diatas sudah saatnya kita kembali memanfaatkan warisan leluhur kita
yang sudah terbukti mampu membangun peradaban dan memberikan kemakmuran. Dengan
begitu sebagai bangsa yang besar kita pun tidak akan sampai kehilangan jati
diri akibat (selalu) berkiblat kepada bangsa lain. Selamat Hari Pendidikan
Nasional, 2 Mei !.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar