Suksesi kepemimpinan tingkat nasional yang tinggal dua bulan
lagi sejatinya merupakan moment yang sangat menentukan nasib bangsa ini untuk
lima tahun kedepan. Oleh karenanya, masyarakat diharapkan jeli dalam memilih calon
pemimpin yang diharapkan mampu mengayomi mereka. Adapun bidang pendidikan
merupakan salah satu pilar penting yang menyokong tegaknya sebuah bangsa. Mengeluarkan
kebijakan yang bertentangan dengan kebutuhan dunia pendidikan hanya akan
membuat bangsa ini semakin terpuruk sebagaimana yang kita alami saat ini.
Dihilangkannya
mata pelajaran TIK dalam kurikulum baru tentunya sangat kita sayangkan. Kebijakan
tersebut tidak hanya memupus peluang siswa yang kurang mampu untuk memperoleh
keterampilan dibidang teknologi informasi. Lebih dari itu, penghapusan mapel
TIK akan berdampak luas dalam kehidupan masyarakat.
Maraknya peredaran video porno yang
mengakibatkan terjadinya pelecehan seksual di kalangan pelajar akhir-akhir ini,
sejatinya tak dapat dilepaskan dari ketidakmampuan anak dalam memanfaatkan
keterampilan yang mereka kuasai. Kebanyakan anak hanya mampu mengoperasikan
peralatan digital namun tidak memahami etika dalam menggunakannya. Akibatnya,
berbagai penyimpangan pun tak terhindarkan. Mulai dari berkata-kata kasar di
media sosial, menyebar fitnah, mengunggah dan menyebarkan film porno sampai
dengan pembobolan kartu kredit seakan menjadi fenomena yang dianggap “wajar”
oleh sebagian masyarakat kita.
Untuk mencegah kerusakan (moral)
lebih parah, berbagai upaya telah dilakukan oleh guru TIK yang tergabung dalam
Asosiasi Guru TIK dan KKPI nasional. Mulai dari mengadakan seminar nasional
tentang pentingnya mapel TIK dan KKPI, mengumpulkan petisi di dunia maya sampai
dengan mengadakan audiensi dengan pihak Kemendikbud. Namun demikian berbagai
upaya tersebut nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Pemerintah
tetap pada pendiriannya untuk “mengintegrasikan” mapel TIK ke pelajaran lainnya
dengan alasan sudah saatnya TIK menjadi tools
bagi pelajaran lainnya sehingga tidak perlu lagi menjadi mapel yang berdiri
sendiri.
Atas dasar pertimbangan tersebut,
upaya yang paling memungkinkan untuk mengembalikan mapel TIK ke dalam kurikulum
adalah dengan cara membangun kontrak politik dengan para capres yang akan
bertarung. Upaya tersebut sangat dimungkinkan mengingat (organisasi) guru TIK
memiliki bargaining position yang
kuat di mata para kandidat. Dengan jumlah guru TIK yang mencapai puluhan ribu
orang dan tersebar di seluruh tanah air, tidak mustahil mampu berperan besar
dalam mengantarkan salah satu kandidat untuk meraih kursi RI 1.
Dengan disusunnya kontrak politik
bersama kandidat, kita berharap pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap lima
tahun sekali ini mampu melahirkan pemimpin yang peduli terhadap eksistensi
mapel TIK. Dengan begitu kerusakan moral di kalangan remaja yang saat ini
semakin memprihatinkan dapat dicegah sedini mungkin.
Home
http://i1084.photobucket.com/albums/j401/osusanto/tik.jpg
BalasHapus