Penelitian yang dilakukan oleh Dinas
Kesehatan kota Depok terhadap jajanan anak di 55 sekolah yang ada di kota Depok
hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan hasil uji laboratorium,
terungkap fakta bahwa tidak sedikit jajanan sekolah tersebut yang positif
mengandung bahan pengawet seperti borak, formalin maupun zat pewarna tekstil
sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Harga yang murah serta kemasan yang menarik
disinyalir sebagai
penyebab utama siswa
menjadi pelanggan setia jajanan tersebut. Selain itu kurangnya pemahaman siswa
terhadap makanan yang sehat menjadikan mereka tidak selektif dalam memilih
jajanan.
Masih
beredarnya jajanan “sampah” tersebut antara lain disebabkan oleh lemahnya
pengawasan yang dilakukan oleh pihak sekolah terhadap makanan yang
diperjualbelikan disekitar sekolah. Hal ini membuat para pedagang yang hanya
memikirkan keuntungan semata tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan anak bebas
menjalankan aksinya. Mereka beralasan, bahan pengawet tersebut diperlukan agar
makanan yang mereka jual tidak cepat basi. Selain itu tidak adanya pengawasan
yang ketat dari pemerintah terhadap peredaran bahan pengawet maupun zat pewarna
menjadikan kedua bahan tersebut dapat diperoleh dengan mudah dipasaran.
Kondisi
ini diperparah dengan kurangnya perhatian orang tua terhadap makanan yang
dikonsumsi oleh anak setiap harinya. Aktivitas orang tua yang begitu padat
menyebabkan mereka tidak sempat mempersiapkan bekal makanan untuk anaknya.
Kebanyakan dari mereka lebih suka memberikan uang jajan yang cukup besar bagi
anaknya. Akibatnya, anak pun bebas membeli makanan yang mereka kehendaki tanpa
mempedulikan apakah makanan tersebut baik atau tidak bagi kesehatan.
Untuk mencegah bahaya lebih lanjut,
diperlukan kerjasama antar berbagai pihak dalam mengawasi jajanan yang
diperjualbelikan di sekolah. Apa yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) Jawa Barat dengan membentuk Tim Keamanan Pangan (TKP) yang
beranggotakan komite sekolah, orang tua, kepala sekolah, guru dan pengelola
kantin hendaknya dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Adapun tugas dari
tim tersebut adalah untuk memantau peredaran makanan yang ada di sekolah.
Selain
itu aparat pun diharapkan aktif dalam mengawasi penggunaan bahan kimia di
masyarakat. Jika ternyata ditemukan penyalahgunaan, maka sanksi tegas pun harus
ditegakkan
Dengan adanya sinergi antara
pihak sekolah dan orang tua dan pemerintah diharapkan kedepan tidak ada lagi anak yang sakit-sakitan
karena sering mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat. Selain itu, dengan
menciptakan pola hidup sehat disekolah dan dirumah diharapkan akan memupuk
kesadaran siswa akan pentingnya hidup sehat untuk masa kini dan masa yang akan
datang.(Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 21 Maret 2014)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar