Adanya paradigma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat
yang menganggap lembaga pendidikan formal sebagai satu-satunya sarana
pendidikan karakter patut kita sayangkan. Hal ini seolah-olah menegaskan pendapat yang
mengatakan bahwa proses pendidikan karakter akan berakhir saat anak menerima
selembar ijazah. Kasus-kasus besar yang sempat mencoreng wajah dunia pendidikan
dan hukum seperti plagiarisme oleh kalangan akademisi maupun kasus suap oleh
mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Muchtar bisa jadi merupakan akibat
dari paradigma keliru semacam ini.
Dalam
pandangan penulis, pendidikan karakter sejatinya berlangsung secara utuh dan
berkelanjutan. Selain itu pendidikan karakter tidak terikat oleh ruang, waktu
maupun subjek pembelajar. Setiap orang, apapun profesinya memerlukan pendidikan
karakter agar mampu menjadi manusia seutuhnya.
Sedikitnya ada tiga sarana yang dapat
digunakan sebagai tempat untuk menanamkan dan mengamalkan pendidikan karakter. Pertama,
media yang memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat tentunya akan mampu
membentuk karakter seseorang untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, media yang
hanya menyuguhkan tontonan yang tidak mendidik berupa tayangan-tayangan hiburan
yang berlebihan hanya akan menyuburkan budaya hedonisme dan konsumerisme
dikalangan masyarakat. Selain itu media yang baik bukanlah media yang bertujuan
menggiring opini masyarakat kearah tertentu, melainkan mendidik masyarakat agar
mampu mencerna informasi yang disuguhkan.
Kedua, lingkungan
kerja merupakan sarana penting lainnya
dalam menguji integritas dan dan mengasah kompetensi sosial seseorang. Adanya konflik (kepentingan) yang tak jarang melibatkan
atasan maupun rekan sekerja akan berimbas pada pendirian seseorang. Baginya
hanya ada dua pilihan, terbawa arus atau mewarnai lingkungan kerja dengan
hal-hal yang baik. Adanya pejabat yang terlibat kasus korupsi bisa jadi bukan
karena keinginannya, namun lebih disebabkan ketidakmampuannya dalam menolak
perintah atasan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya.
Ketiga, disadari
atau tidak keluarga memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk
karakter seseorang. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan benteng paling utama
dalam menjaga keselamatan anggotanya baik lahir maupun batin. Mengambil
keputusan dengan terlebih dahulu memusyawarahkannya dengan seluruh anggota
keluarga merupakan contoh bagaimana pendidikan karakter ditanamkan.
Dengan
memanfaatkan sarana-sarana pendidikan karakter seperti yang telah dijelaskan
diatas, kita berharap pendidikan karakter tidak lagi dipandang secara parsial
sebagai materi ( yang disisipkan pada setiap mata pelajaran ) disekolah, namun
lebih kepada proses internalisasi nilai-nilai secara berkelanjutan. Dengan begitu, sosok manusia Indonesia
seutuhnya sesuai dengan yang dicita-citakan pun dapat terwujud.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar