Pergantian tahun yang baru saja kita lewati hendaknya kita
maknai sebagai momentum perubahan kearah yang lebih baik. Bagi dunia pendidikan
sendiri, datangnya tahun baru ini merupakan era dimana revolusi dibidang pendidikan
(seharusnya) terjadi . Revolusi tersebut tentunya melibatkan semua stake holder yang sangat menentukan arah
pendidikan dimasa yang akan datang.
Bagi seorang
pendidik, tahun baru hendaknya dijadikan kesempatan untuk meningkatkan kinerja
yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Adapun tahun 2013 yang baru saja
kita lewati hendaknya dijadikan cermin oleh setiap pendidik untuk tidak
mengulangi berbagai kesalahan yang pernah dilakukan pada masa tersebut. Datang
kesiangan, tidak melengkapi administrasi pembelajaran sampai dengan datang ke
kelas tanpa persiapan merupakan kebiasaan yang tidak boleh kita temui lagi
ditahun yang baru ini, terlebih bagi mereka yang telah menyandang “gelar” guru
sertifikasi.
Sebaliknya, ditahun
yang baru ini setiap pendidik hendaknya mampu menjadi “kepompong” yang segera
bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik dan menghiasi dunia pendidikan kita
dengan berbagai prestasi yang dapat dibanggakan.
Adapun bagi
pemerintah selaku pemangku kebijakan, tahun 2014 ini merupakan ajang pembuktian
bahwa kurikulum baru yang selama ini diwacanakan sebagai kurikulum yang mampu
menjawab tantangan dimasa yang akan datang benar-benar terbukti “kesaktian”
nya. Kita tentu tidak ingin melihat dana triliunan rupiah yang telah digelontorkan menjadi
tidak optimal karena perencanaan yang tidak matang. Masih banyaknya guru-guru
yang kebingungan mengenai implementasi kurikulum baru ini mereupakan pekerjaan
rumah yang harus segera diselesaikan.
Selain itu
akan segera terjadinya pergantian pucuk kepempinan dinegeri ini merupakan
tantangan lain yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan. Kekhawatiran bahwa
ganti pejabat identik dengan ganti kurikulum hendaknya tidak perlu terjadi jika
kurikulum yang saat ini tengah kita jalankan benar-benar siap. Kita tentu tidak
ingin kurikulum yang baru seumur jagung ini harus layu sebelum berkembang
sebagaimana kurikulum-kurikulum yang pernah berlaku sebelumnya.
Disisi lain
peran maksimal orang tua dalam membimbing anak-anaknya dirumah sangat kita harapkan.
Kesenjangan proses pendidikan antara pihak sekolah dengan orang tua seperti
yang selama ini terjadi mudah-mudahan ditahun yang baru ini tidak terulang.
Kita berharap, orang tua tidak lagi memperlakukan sekolah sebagai Tempat
Penitipan Anak (TPA) dan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan
anaknya kepada sekolah. Dalam hal ini
orang tua memiliki kewajiban untuk melanjutkan proses pendidikan yang selama
ini dilakukan di sekolah.
Dengan
adanya sinergi dari para pemegang stake
holder tersebut kita berharap tahun baru ini benar-benar membawa suasana
baru yang lebih baik bagi dunia pendidikan. Dengan begitu kita pun berharap
tujuan pendidikan seperti yang selama ini dicita-citakan dapat segera terwujud.(Dimuat di Harian Umum Republika, 03 Januari 2014)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar