Mengharapkan media memberikan tayangan yang benar-benar
bermanfaat bagi masyarakat saat ini ibarat mengharapkan matahari terbit dari
barat. Tayangan televisi yang didominasi oleh tayangan-tayangan hiburan seolah
menjadi candu bagi masyarakat khususnya kalangan pelajar yang sedang dalam
proses tumbuh kembang. Berbagai stasiun televisi seolah berlomba untuk
menampilkan berbagai acara dengan rating yang tinggi demi mendapatkan “simpati”
dari pihak sponsor sekalipun acara tersebut sama sekali tidak mendidik, bahkan
cenderung menjerumuskan.
Buku-buku
pelajaran tak lagi menjadi teman setia pelajar masa kini. Budaya membaca,
menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon sering
disebut sebagai generasi penerus bangsa ini. Berdasarkan data dari UNESCO pada
tahun 2012, indeks membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Artinya satu
buku dibaca oleh seribu orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura dan Hongkong
dimana seribu orang membaca sedikitnya 550 buku.
Remaja kita ternyata lebih sering
menghabiskan waktu didepan televisi maupun didepan laptop untuk menyaksikan
acara kesayangannya maupun bercengkarama dengan teman sejawatnya didunia maya.
Akibatnya budaya hedonisme dan konsumerisme pun melekat dalam diri mereka. Idola
– idola baru yang “diorbitkan” oleh media ternyata sangat ampuh dalam meruntuhkan pondasi awal kemajuan
bangsa, yaitu motivasi belajar siswa. Jika sudah seperti ini bisa dibayangkan
pemimpin macam apa yang akan lahir dari generasi semacam ini dimasa yang akan
datang. Mereka akan menjadi para pemimpun sekalipun tak layak disebut pemimpin.
Fenomena tersebut tentunya menjadi
tantangan tersendiri bagi para pendidik. Proses pembelajaran yang dirasakan
kurang menarik oleh siswa harus bersaing ketat dengan acara-acara hiburan yang begitu
memikat. Ahasil, usaha untuk membangun generasi emas seperti yang tengah
dicanangkan oleh pemerintah pun seakan lenyap ditelan oleh hingar-bingarnya
tayangan-tayangan hiburan yang disiarkan tanpa henti. Perpustakaan pun tak lagi
menjadi tempat favorit siswa untuk membaca dan berdiskusi namun lebih terlihat
seperti toko buku yang buku-bukunya masih disegel dengan rapih. Lebih
menghawatirkan lagi, tak jarang perpustakaan menjadi “rumah favorit” cakcak, cucunguk, lancah maung jeung
sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa.
Dalam kondisi ini ada tiga pihak yang
turut andil dalam melunturkan budaya ilmiah dikalangan pelajar. Pertama,
rajinnya media dalam menyuguhkan tayangan hiburan dan menampilkan idola-idola
baru bagi anak sekalipun moralnya bobrok menyebabkan anak kehilangan daya
kritisnya sekaligus menurunkan motivasinya untuk belajar. Kedua, ketidaktegasan
pemerintah untuk menindak media yang menampilkan tayangan-tayangan yang tidak
mendidik bahkan bertentangan dengan norma semakin membuat media berani untuk
menampilkan tayangan-tayangan yang tidak bermanfaat dan bermartabat tersebut.
Ketiga, sikap orang tua yang abai
terhadap anaknya karena kesibukannya diluar rumah menjadikan peran mereka
tergantikan oleh media. Dulu ketika gadget belum ramai seperti sekarang, anak
lebih banyak diasuh oleh pembantu. Kini dengan alasan agar anak tidak sering
keluar rumah Akibatnya anak lebih banyak meniru apa yang dicontohkan oleh media
daripada apa yang dikatakan oleh orang tua maupun guru.
Untuk mengatasi permasalahan semacam
ini diperlukan sinergi antara ketiga pihak tersebut. Media sejatinya berfungsi
sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi
anak, bukan malah merusak mental anak dengan berbagai tayangan yang tidak
mendidik. Media hendaknya memberikan dukungan terhadap program-program untuk
mencerdaskan anak bangsa melalui berbagai iklan layanan masyarakat akan
pentingnya sekolah maupun melalui berbagai tayangan yang secara spesifik
membahas materi-materi pelajaran tertentu.
Adapun untuk melindungi anak-anak dari
berbagai tayangan yang dapat merusak mental mereka seperti tayangan hiburan
yang berlebihan, pemerintah bisa membuat peraturan yang lebih tegas untuk
memfilter konten-konten yang tidak bermanfaat. Selain itu ketegasan pemerintah
untuk menindak media-media yang terbukti melanggar peraturan sangat kita
harapkan.
Selain kedua hal diatas, yang jauh
lebih penting adalah peran orang tua dirumah dalam menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi anak. Menyediakan buku-buku yang sesuai disertai
akses internet secukupnya merupakan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh orang
tua. Faktor-faktor yang dapat mengganggu proses belajar anak seperti televisi sebisa mungkin dijauhkan dari anak. Dengan adanya sinergi semacam ini kita
berharap budaya literasi yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali
melekat. Semoga.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar