Fenomena Digital
Natives sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi memaksa
kita untuk memahami lebih jauh tentang kondisi mereka yang sebenarnya.Generasi Digital Natives adalah mereka yang lahir
pada zaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital sejak usia dini. Adapun
ciri khas generasi semacam ini adalah sangat akrab dengan gadget dan lebih menyukai dunia maya sebagai sarana untuk
berinteraksi dengan yang lainnya. Sedangkan kita yang pernah hidup di saat
ketika teknologi belum berkembang seperti saat ini lalu kemudian mengikuti perkembangannya hingga sekarang disebut
sebagai generasi Digital Immigrants.
Kegagalan
dalam “berkomunikasi” dengan peserta didik saat ini sebagai akibat dari kurangnya
pemahaman akan karakteristik mereka tak jarang menimbulkan gap dalam proses pembelajaran. Disatu sisi guru ingin menjauhkan
anak dari perangkat teknologi informasi karena dianggap dapat mengganggu
pembelajaran baik disekolah maupun dirumah, disisi lain peserta didik yang
sejak kecil sudah akrab dengan peralatan tersebut nampaknya tidak bisa lepas
dengan dunianya. Akhirnya, label “kolot” pun disematkan oleh mereka bagi guru
yang dianggap kurang bisa memahami kebutuhan mereka.
Dalam
konteks pembelajaran dikelas, metode pembelajaran konvensional yang cenderung
monoton dan searah seolah menjadi siksaan bagi mereka yang terbiasa belajar
menggunakan perangkat IT sebagai medianya. Minimnya bahan ajar berbasis
multimedia yang digunakan oleh para guru menjadikan proses pembelajaran menjadi
kurang menarik yang pada akhirnya membuat motivasi siswa untuk belajar menjadi
berkurang.
Untuk
mengatasi kebuntuan semacam ini, diperlukan kemauan dan usaha yang
sungguh-sungguh dari para pendidik untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya dibidang
IT. Memperbanyak bahan-bahan ajar yang berbasis multimedia dengan cara
mengunduh dari internet maupun membuat bahan ajar sendiri nampaknya menjadi
suatu keharusan. Selain itu, untuk dapat berkomunikasi “langsung” dengan
peserta didik, guru hendaknya aktif dimedia sosial yang sering dikunjungi anak.
Hal ini dikarenakan saat ini terdapat kecenderungan dimana anak lebih suka
mengutarakan isi hatinya melalui jejaring sosial daripada menyampaikan langsung
pada guru maupun orang tua.
Dengan
adanya upaya semacam ini, diharapkan komunikasi antara guru dan siswa bisa
berjalan dengan baik karena memiliki “bahasa” yang sama. Hubungan yang harmonis
ini tentu saja pada akhirnya akan membuat proses pembelajaran berjalan baik dan
berimplikasi positif pada tingkat partisipasi dan prestasi akademik siswa. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 27 November 2013)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar