Menyimak berita tentang derita para Tenaga Kerja Indonesia
(TKI) yang bekerja diluar negeri sekan tak ada habisnya. Mulai dari kabar
penganiayaan fisik oleh pihak majikan,
gaji yang tidak dibayarkan sampai dengan ancaman hukuman gantung sering kali
menghiasi layar televisi kita. Celakanya lagi, berita-berita tersebut tak
sedikit pun menyurutkan langkah para calon TKI lainnya untuk mencari
peruntungan dinegeri orang meski dengan bekal seadanya. Adapun masih rendahnya
tingkat pendidikan disinyalir sebagai sebab utama yang menjadikan negara ini
hanya mampu menyediakan tenaga-tenaga kerja untuk ditempatkan disektor-sektor non
formal diluar negeri.
Jika kita kaji lebih dalam lagi,
semangat sumpah pemuda yang diikrarkan oleh putra-putra terbaik bangsa ini
beberapa puluh tahun yang lalu tersebut ternyata baru mampu sebatas melepaskan
bangsa ini dari rantai-rantai penjajah bangsa asing, namun belum bisa
membebaskan bangsa ini dari belengu-belenggu kebodohan. Lebih memprihatinkan
lagi, kebodohan tersebut tak jarang dipelihara oleh pihak tertentu untuk
kepentingannya.
Disaat anak-anak seusia sekolah dasar
harus bertaruh nyawa untuk dapat menginjakkan kakinya di sekolah dengan
melewati jembatan yang dibuat alakadarnya, digarasi sang pejabat terpampang
beberapa buah mobil mewah. Sungguh sebuah ironi. Kemerdekaan bangsa Indonesia
yang diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945 silam ternyata baru sebatas
pernyataan sikap bahwa bangsa ini adalah bangsa yang merdeka dari penjajahan
bangsa kulit putih, namun tidak untuk penjajah berambut hitam.
Berdasarkan data dari UNESCO per 8
September lalu, saat ini terdapat 774 juta orang diseluruh dunia yang buta
aksara dimana 6,4 juta orang adalah warga negara Indonesia. Angka tersebut tentu saja tidak bisa
dikatakan kecil. Peningkatan anggaran untuk bidang pendidikan ternyata belum
mampu meningkatkan pemerataan kualitas dan pemerataan pendidikan sesuai dengan
yang diharapkan.
Menyikapi kondisi semacam ini
dibutuhkan semangat yang tinggi untuk membangun bangsa ini sebagaimana diikrarkan oleh para pendahulu
kita dalam sumpah pemuda. Semangat yang mampu mengantarkan bangsa ini sampai
pada pintu gerbang kemerdekaan tersebut hendaknya kita tiru dengan cara
melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah
satunya melalui pendidikan.
Pendidikan sejatinya merupakan
senjata paling ampuh untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin datang
dari luar melalui berbagai saluran. Ekonomi, politik, sosial dan budaya adalah
saluran-saluran dimana bangsa lain terbiasa menanamkan pengaruhnya. Dengan
mempersiapkan generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan tersebut, bisa
dipastikan dimasa depan kita akan mampu berdiri tegak ditengah percaturan dunia
yang semakin hari semakin penuh tantangan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28
Oktober.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar