Hari Anak Nasional yang diperingati tangal 23 Juli yang lalu
nampaknya tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya. Hanya segelintir saja yang
benar-benar merayakannya dengan berbagai kegiatan seperti lomba melukis,
menulis dongeng dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan media pun cenderung lebih
banyak memberitakan kasus-kasus korupsi dan juga bentrok antara ormas dengan
warga dibandingkan mengangkat pemberitaan tentang peringatan hari anak.
Fenomena
tersebut bukanlah hal aneh mengingat tahun 2013 ini adalah paling berat bagi
anak maupun orang tua. Kebijakan menaikkan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah
beberapa waktu yang lulu cukup memukul perekonomian keluarga khususnya yang
kurang mampu. Salah satu alasan pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut
adalah karena subsidi yang selama ini diberikan lebih banyak dinikmati oleh
orang kaya sehingga subsidi tersebut harus segera dikurangi dan dialihkan.
Pemerintah
pun meyakinkan masyarakat bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak positif bagi
dunia pendidikan. Salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah adalah
Program Menengah Universal atau yang dikenal dengan PMU. Melalui program ini setiap siswa SMA / SMK akan
mendapatkan bantuan sebesar Rp 1 juta pertahun dan Rp 750
ribu untuk siswa SMP
yang disalurkan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Adapun yang menjadi
tujuan jangka panjang program ini adalah untuk meningkatkan Angka Partisipasi
Kasar (APK) pendidikan menegah nasional menjadi
sebesar 97 persen pada tahun 2020 dari angka APK saat ini yang hanya 78,8 persen.
Namun
pada kenyataannya ternyata pemerintah kurang memperhitungkan dampak sosial dari
kebijakan menaikkan harga BBM ini. Tingginya harga kebutuhan pokok memaksa
orang tua untuk memutar otak agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Akhirnya,
menyuruh anak berhenti sekolah dan ikut bekerja membantu orang tua pun menjadi
pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Alhasil, jumlah pekerja anak pun
meningkat seiring dengan makin banyaknya anak yang berhenti sekolah untuk
bekerja membantu orang tua. Jika sudah begini, perlahan tapi pasti tunas-tunas
bangsa pun harus berguguran.
Disisi lain ketika anak memutuskan
untuk bekerja pun ternyata mendatangkan masalah baru terutama bagi sang
majikan. Adanya larangan untuk mempekerjakan anak terutama anak dibawah umur
adalah persoalan lain yang harus dihadapi oleh anak maupun orang tua. Akibatnya
tak jarang industri rumahan pun harus main “kucing-kucingan” dengan aparat. Situasi seperti ini tentu saja sangat
tidak menguntungkan bagi kondisi psikologis anak.
Melihat
kenyataan diatas, sesulit apapun kondisi keluarga seyogyanya orang tua tetap
menyekolahkan anaknya karena sekolah adalah tempat yang tepat bagi mereka. Dengan
mendukung anak untuk tetap bersekolah, secara tidak langsung orang tua turut
berpartisipasi dalam usaha untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan
menempatkan pendidikan sebagai investasi untuk masa depan yang lebih baik.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar