Berdasarkan data dari Kepala Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN), pada tahun 2020 sampai dengan 2013 mendatang Indonesia akan
memperoleh Bonus Demografi. Istilah Bonus Demografi pada dasarnya menggambarkan
suatu kondisi dimana tersedianya jumlah angkatan kerja atau penduduk produktif
di suatu negara. Selain itu, suatu negara dapat dikatakan mengalami Bonus
Demografi jika rasio angka ketergantungan berada pada titik terendah dengan
kata lain jumlah angkatan tidak produktif sangat sedikit.
Dalam rangka ikut memperingati
Hari Kependudukan Sedunia yang jatuh pada tanggal 11 Juli yang lalu, Indonesia mengambil
tema yang berkenaan dengan remaja atau pemuda. Pernyataan tersebut disampaikan
oleh Kepala BKKBN yang baru yaitu Prof. Fasli Jalal beberapa waktu yang lalu. Dalam
pernyataannya beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki jumlah remaja
yang sangat tinggi sehingga bisa menjadi aset yang berharga bagi bangsa jika
dibina dengan baik. Sebaliknya, potensi tersebut akan sirna bahkan cenderung
menjadi beban negara jika tidak diarahkan pada hal-hal yang positif.
Berdasarkan hasil sensus
penduduk pada tahun 2010, jumlah remaja Indonesia yang berumur 10-24 tahun mencapai 64 juta
orang atau sekitar 27,6 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut
tentu saja merupakan potensi yang sangat besar dan harus dikembangkan secara
maksimal. Pemerintah hendaknya mempersiapkan golongan remaja tersebut agar
mampu menjadi penerus bangsa yang sehat secara jasmani, rohani dan berakhlak
mulia.
Tantangan
Kurikulum 2013
Meskipun
akan dianugrahi Bonus Demografi, nampaknya pemerintah harus terlebih dahulu
menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami remaja saat ini. Pergaulan
bebas, tawuran, penyalahgunaan Narkoba dan juga permasalahan lainnya harus
segera diatasi jika tidak ingin menjadi beban dimasa yang akan datang. Adapun
kurikulum 2013 yang digadang-gadang oleh pemerintah dapat menjawab
berbagai tantangan dimasa yang akan datang sejatinya mampu mengatasi berbagai
persoalan remaja tersebut karena salah satu alasan disusunnya kurikulum baru
tersebut salah satunya adalah untuk memperbaiki moral remaja.
Kurikulum
baru yang akan diterapkan mulai tahun ini tentu akan menjadi ajang pertaruhan apakah
kurikulum baru ini sehebat yang didengung-dengungkan oleh pemerintah
terutama dalam memperbaiki moral remaja. Memang kurang adil jika menilai bagus
atau tidaknya kurikulum hanya dengan melihat perjalanannya selama satu atau dua
tahun kedepan. Namun melihat berbagai kekurangan yang ada nampaknya kita tidak
bisa terlalu berharap banyak. Pelatihan guru yang terkesan mendadak dan
singkat, pendistribusian buku paket ke sekolah-sekolah pada saat Injury
Time sampai dengan belum jelasnya konsep evaluasi terhadap proses pembelajaran
adalah kendala-kendala yang tentu saja dapat
mengakibatkan implementasi kurikulum baru ini menjadi tidak optimal.
Pada
akhirnya kita pun hanya bisa berharap pemerintah mampu mengatasi berbagai
kekurangan dalam kurikulum baru tersebut sehingga Bonus Demografi ini benar-benar menjadi berkah yang
akan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dimasa depan dan bukan
sebaliknya. Mudah-mudahan !.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar